logo


Primadona Cabai Hias Terbaru Itu Bernama Bolivian Rainbow..

Varietas cabai ini merupakan jenis ornamental pepper ini berasal dari Bolivi

20 Mei 2015 09:41 WIB

Bolivian Rainbow ( Ist )
Bolivian Rainbow ( Ist )

JAKARTA, JITUNEWS.COMSiapa yang tak kenal sosok tanaman hortikultura satu ini, dialah cabai. Cabai biasa digunakan sebagai pelengkap makanan agar lebih berselera. Saat ini di Indonesia sendiri sudah banyak varietas cabai yang mengusung keunggulannya masing-masing. Yang terbaru adalah jenis cabai warna-warni atau populer dengan sebutan cabai pelangi.

Bolivian rainbow adalah salah satu jenisnya. Varietas cabai ini merupakan jenis ornamental pepper ini berasal dari Bolivia. Cabai jenis ini lebih lazim dipakai sebagai tanaman hias. Dengan warna yang sangat cantik dan menarik, bolivian rainbow hadir dengan keistimewaan layaknya cabai hias yang edible atau dapat dimakan.

Salah satu pembibit sekaligus pembudidaya cabai bolivian rainbow ini adalah Lucky. Pria yang menanam cabai hias di bilangan Madiun, Jawa Timur ini mengaku bahwa bolivian rainbow memang sedang tren saat ini. Permintaannya pun tak pernah surut, selalu saja ada.


Ini Penyebab Sayuran Organik Berbentuk ‘Tak Sempurna’

“Yah, cabai ini memang banyak diburu orang. Tak sedikit juga yang menghubungi bahkan mendatangi saya untuk menanyakan ihwal cabai ini,” katanya kepada JITUNEWS.COM, Selasa, (5/19).

Memang, dibanding cabai lazimnya, bollivian rainbow memilki keunggulan tersendiri, walaupun dari segi rasa terbilang sama saja. Tapi dari sisi warna ia sangat menarik.

“Bolivian rainbow memiliki perubahan warna yang menarik dari muda ke tua. Perubahan warna inilah yang menyebabkannya disebut rainbow atau pelangi karena dalam satu tanaman warna cabainya bisa berwarna warni. Perubahannya adalah ungu-kuning-oranye-merah. Selain itu, daunnya berwarna ungu terang, ya walaupun rasa dari cabai ini sendiri sama saja”, ungkap Lucky.

Bolivian Rainbow memiliki tingkat kepedasan 5.000–30.000 SHU. Bandingkan dengan cabai rawit hijau yang terdapat di pasaran, (SHU) 50,000–100,000. Tinggi tanaman ini rata-rata 60-90cm.

Membudidayakan cabai ini terbilang mudah, dia cocok ditanam di dataran rendah hingga dataran tinggi, asalkan cukup akan sinar matahari. Media tanamnya bisa menggunakan tanah dan humus dengan perbandingan 2 : 1. Seperti pada umumnya keluarga cabai sebagai kelompok perdu, perawatan cabai ini cukup memperhatikan pemupukan agar lebih produktif.

Untuk penyemaiannya, Lucky biasa melakukannya dalam 1 pot kecil berdiameter 8 cm. Pot bunga yang baik untuk tanaman cabai, harus ada lubang-lubang di bagian bawahnya. Fungsinya untuk saluran pembuangan air.  Cabai tak bisa tumbuh pada tanah berair, maka perlu ada drainasi pada pot tanaman.

Media tanamnya sendiri menggunakan tanah kompos yang dicampurkan dengan pupuk kandang, dimasukkan ke dalam pot lalu disiram menggunakan air hingga basah kuyup. Namun  sebelum menaruh bibit, ia merendamnya terlebih dahulu dengan air. Hal tersebut dilakukan agar cangkang biji cabai tidak kasar, dalam hal ini lunak dan memudahkan tunas tumbuh mekar ke atas.

“Setelah bibit berukuran 10 cm, bisa dipindah ke pot bunga. Pemindahan harus hati-hati jangan merusak akar dan batang pohon.  Setelah di pindah, perawatan rutin hanyalah disiram. Pada pagi hari ditaruh di luar rumah, tapi jangan terkena matahari langsung sebab bisa layu.  Pohon akan berbuah ketika usia 3 bulan,” papar Lucky.

Selain bolivian rainbow, ternyata ada beberapa varietas cabai terbaru lain, diantaranya cherry chilli, chandlelight tepper, malagueta, bigred belpetter dan masih banyak lainnya.

Soal harga cabainya sendiri, Lucky menawarkannya dengan harga yang terjangkau. Semua varetas beru tersebut dibanderol Lucky seharga Rp 2 ribu/biji.  “Untuk harga saya pukul rata, 1 biji bibit cabai saya jual Rp 2 ribu”, paparnya.

So, Anda tertarik membudidayakan cabai eksotis ini?

 

Raup Untung Hingga Rp 5 Juta dari Pepaya California

Halaman: 
Penulis : Aditya Wardhana, Riana