logo


Kepala BNPT: Ideologi Berbasis Kekerasan Bisa Jadi Produk Kejahatan Terorisme

ideologi-ideologi yang berbasis kekerasan bisa mengarah menjadi ideologi aksi terorisme.

30 November 2021 18:32 WIB

Ketua BNPT, Komjen Pol Boy Rafli Amar
Ketua BNPT, Komjen Pol Boy Rafli Amar www.jitunews.com/herumuawin

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Boy Rafli Amar mengingatkan kepada generasi muda akan bahaya dari ideologi-ideologi yang berbasis kekerasan.

Menurutnya ideologi-ideologi yang berbasis kekerasan bisa mengarah menjadi ideologi aksi terorisme.

“Ideologi kekerasan ini umumnya intoleran radikal menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang di dalam hukum kita itu bisa menjadi sebuah produk kejahatan terorisme,” ujar Boy saat menjadi pembicara diskusi bertemakan ‘Generasi Muda Sasaran Paham Radikalisme’ di Cafe Merah Putih, Jakarta, Selasa (30/11/2021).


Wapres Tak Perlu Tanggapi Polemik Pembubaran MUI, Ferdinand: Sebaiknya Konsentrasi Memajukan Bangsa

Menurutnya partisipasi masyarakat luas sangat diperlukan agar  aksi-aksi kekerasan akibat paham ideologi ini tidak terjadi dalam masyarakat.

“Kita menyadari, kita adalah bangsa yang memiliki ideologi yang sangat baik ideologi Pancasila. Kita tentunya berharap ideologi-ideologi kekerasan yang datang ke masyarakat kita itu tidak menjadi pilihan masyarakat,” kata Boy.

“Tetapi sebaliknya masyarakat tentunya menjadi bagian dari perlawanan dalam mitigasi merebaknya paham-paham radikal intoleran dan radikal terorisme,” imbuhnya.

Dalam hal ini, Boy menyebut bahwa salah satu tugas dari BNPT yaitu membangun semangat kekuatan kolektif masyarakat agar tetap merujuk kepada ideologi dimiliki oleh bangsa Indonesia yaitu ideologi negara berdasarkan Pancasila.

Boy menambahkan bahwa ideologi-ideologi terorisme  pada umumnya  tidak sejalan dengan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila.

“Mereka anti terhadap ideologi kita, anti terhadap konstitusi kita, mereka bahkan bisa menyalahgunakan agama, mengatasnamakan kegiatan-kegiatan kekerasan itu atas nama agama. Itu tentu sesuatu yang tidak kita harapkan,” urai Boy.

Karenanya, Boy meminta kepada masyarakat untuk hidup rukun berdampingan secara damai, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan.

"Jadi perbedaan itu adalah bagian dari anugerah Yang Maha Kuasa yang harus kita pelihara. Kalau perbedaan dipertentangkan terus, yang ada adalah friksi," ungkapnya.

Boy pun meminta kepada masyarakat untuk mewaspadai adanya ideologi yang dengan sengaja bisa menimbulkan konflik di dalam masyarakat yang bisa membelah semangat untuk bersatu, dan merusak semangat untuk menghargai perbedaan.

Densus 88 Tangkapi Teroris, MUI Yakin Tak Ada Kriminalisasi Ulama atau Islamofobia

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar