logo


Seberapa Efektif Aturan Larangan Perjalanan Internasional Cegah Varian Omicron? Begini Kata Pakar

Sejumlah pakar mengatakan jika aturan pembatasan perjalanan tersebut hanya akan menunda, dan tidak dapat benar-benar mencegah penyebaran varian baru Covid-19 Omicron

29 November 2021 21:10 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Resiko yang ditimbulkan oleh varian baru Covid-19, yang disebut Omicron, sebagian besar masih belum diketahui untuk saat ini. Tetapi Organisasi Kesehatan Dunia menyebutnya sebagai "Variant of Concern" atau varian yang harus diwaspadai dan pemerintah di seluruh dunia bergegas memberlakukan larangan penerbangan dan pembatasan perjalanan internasional tanpa menunggu kesimpulan para ilmuwan yang kini tengah berusaha memahami varian baru tersebut.

Langkah penutupan wilayah perbatasan dan larangan melakukan perjalanan dari negara-negara Afrika mulai Senin (29/11) ini sudah diberlakukan di berbagai negara, termasuk Indonesia dan hampir seluruh negara lain untuk mencegah penyebaran varian Omicron tersebut.

Beberapa pihak mengatakan bahwa aturan pembatasan tersebut bisa mengulur waktu bagi negara-negara untuk menerapkan langkah-langkah kesehatan masyarakat yang baru. Sementara tak sedikit yang berpendapat jika aturan tersebut tidak akan efektif dalam menghentikan penyebaran varian Omicron, sama seperti yang terjadi pada penyebaran varian Delta beberapa waktu lalu.


Uni Eropa Terjunkan Tim untuk Amati Pemilu Venezuela, Presiden Maduro: Delegasi Mata-mata

Lalu, apakah aturan pembatasan perjalanan ini dapat secara efektif mencegah penyebaran varian yang memiliki jumlah mutasi jauh lebih banyak daripada varian Delta? Berikut pendapat beberapa pakar.

Pakar penyakit menular Universitas Edinburg Mark Woolhouse mengatakan bahwa kebijakan pembatasan perjalanan internasional kemungkinan bisa mengulur waktu bagi negara-negara di dunia untuk meningkatkan program vaksinasi dan memperkenalkan kebijakan kesehatan yang baru. Namun, ia berpendapat jika besar kemungkinan kebijakan pembatasan tersebut dapat secara efektif mencegah penyebaran Omicron.

"Pembatasan perjalanan dapat menunda tapi tidak mencegah penyebaran sebuah varian yang sangat mudah ditularkan," katanya, dikutip South China Morning Post.

Sementara itu, Kepala Epidemiolog Swedia, Anders Tegnell, mengatakan bahwa dirinya tidak yakin jika kebijakan pembatasan tersebut memiliki dampak yang besar.

"Secara dasar sangat tidak mungkin untuk terus melacak seluruh aliran perjalanan (internasional)," ujarnya kepada surat kabar Expressen.

Jeffrey Barrett, pakar Covid-19 pada Wellcome Sanger Institute, mengatakan bahwa deteksi dini varian baru bisa berarti pembatasan yang diambil sekarang akan memiliki dampak yang lebih besar daripada saat varian Delta pertama kali muncul.

“Pengawasan sangat baik di Afrika Selatan dan negara-negara terdekat lainnya sehingga mereka menemukan [varian baru] ini, memahami itu adalah masalah dan memberi tahu dunia dengan sangat cepat tentang hal itu,” katanya.

“Kita mungkin berada di titik awal dengan varian baru ini sehingga mungkin masih ada waktu untuk melakukan sesuatu tentang hal itu,” tambahnya.

Namun, Barrett mengatakan pembatasan keras akan menjadi sebuah kebijakan yang kontraproduktif dan pemerintah negara-negara di Afrika bagian selatan tidak boleh dihukum karena memperingatkan dunia tentang varian baru.

"Mereka telah melakukan pelayanan bagi dunia dan kita harus membantu mereka, bukan menghukum mereka karena ini," tandasnya.

Bisakah Test PCR Deteksi Varian Covid-19 Omicron? Begini Kata WHO

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia