logo


Rusia Sebut Ukraina Gunakan Senjata Terlarang dalam Melawan Gerakan Separatis

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut militer Ukraina sudah mulai menggunakan senjata yang dilarang oleh perjanjian Minsk, dalam konflik melawan gerakan separatis di negara tersebut.

25 November 2021 22:17 WIB

Juru bicara pemerintah Rusia, Maria Zakharova
Juru bicara pemerintah Rusia, Maria Zakharova istimewa

MOSKOW, JITUNEWS.COM - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyebut situasi konflik di wilayah Ukraina, antara pasukan militer pemerintah dengan kelompok separatis, semakin memburuk. Ia juga menyebut pasukan militer Ukraina sudah mulai menggunakan senjata-senjata canggih pemberian negara-negara barat, yang tidak sesuai dengan perjanjian Minsk.

“Para pemimpin yang berkepala panas di Kiev, tampaknya dengan perasaan impunitas penuh, mendukung solusi militer untuk krisis internal Ukraina ini,” kata Zakharova kepada para wartawan, dilansir RT.com.

Ia mengatakan bahwa konflik tersebut digunakan untuk mengalihkan perhatian publik dari krisis politik domestik yang terjadi di negara itu.


Waspada, Telah Muncul Varian Baru Covid-19 yang Jauh Lebih Berbahaya daripada Varian Delta

Pada konferensi pers tersebut, Zakharova menambahkan jika pengamat internasional yang dikirim atas nama Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa telah mencatat peningkatan tindakan ofensif dari pasukan militer Ukraina di beberapa bagian wilayah tersebut.

“Situasi di zona konflik meningkat. Semakin banyak informasi yang muncul tentang penggunaan senjata yang dilarang oleh perjanjian Minsk, yang dipasok ke Ukraina oleh negara-negara NATO," katanya.

Ketegangan di timur Ukraina telah meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir, dengan kepala direktorat intelijen militer Ukraina, Kirill Budanov, mengungkapkan bahwa negara itu telah melakukan uji coba dan mengerahkan rudal anti-tank Javelin buatan AS.

Menanggapi laporan peningkatan aktivitas militer Ukraina tersebut, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa “dalam beberapa pekan terakhir, kami telah melihat aliran kesadaran dari kepemimpinan Ukraina – terutama ketika menyangkut militer – yang sangat meradang dan berbahaya.”

 

China dan Iran Sepakat Kerja Sama Cegah Intervensi Asing dalam Urusan Internal Kedua Negara

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia