logo


China dan Rusia Sudah Kembangkan Rudal Hipersonik, Perusahaan Teknologi AS: Kita Sudah Tertinggal

CEO Raytheon Technologies Corp, Gregory Hayes, mengatakan jika AS harus sistem otomatis untuk mempertahankan wilayahnya dari ancaman serangan rudal hipersonik China

27 Oktober 2021 13:45 WIB

Ilustrasi Rudal Hipersonik
Ilustrasi Rudal Hipersonik Sputniknews

WASHINGTON, JITUNEWS.COM - CEO perusahaan teknologi pertahanan asal Amerika Serikat, Raytheon Technologies Corp, pada Selasa (26/10) mengatakan bahwa meski Amerika Serikat saat ini sudah memiliki sejumlah program pengembangan senjata hipersonik dan juga sudah memahami teknologinya, namun China telah lebih dulu “menerjunkan senjata hipersonik". Hal itu ia sampaikan dalam sebuah sesi wawancara dengan Bloomberg.

"Kita sudah tertinggal setidaknya beberapa tahun di belakang (China)," kata Gregory Hayes dalam wawancara tersebut.

Sebelumnya, beberapa laporan media mengatakan bahwa China telah melakukan dua kali uji coba senjata hipersonik selama musim panas ini dan Hayes mengatakan jika senjata semacam itu dapat mencapai kecepatan 22.000 mil per jam.


Kecam Rencana Israel Bangun Pemukiman di Tepi Barat, AS: Tidak Bisa Diterima

“Kami harus memiliki sistem otomatis untuk mempertahankan tanah air, dan kami fokus pada itu," tambahnya.

Unit Rudal dan Pertahanan Raytheon pada bulan September lalu sudah berhasil menguji coba rudal jelajah hipersonik yang dapat melaju dengan kecepatan lebih dari Mach 5 atau lima kali lipat kecepatan suara, sebagai bagian dari kontrak pengembangan untuk Angkatan Udara AS dan Defense Advanced Research Projects Agency, badan pengembangan teknologi canggih Pentagon.

“Kami akan memiliki senjata untuk menantang musuh, tetapi yang paling penting saya pikir fokus kami adalah bagaimana kami mengembangkan kontra-hipersonik," kata Hayes.

“Di situlah tantangannya," tukasnya.

Anggota Parlemen AS Desak Joe Biden Tak Jual F-16 kepada Turki

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia