logo


Hasto Sebut Komunikasi Politik Bukan Mengarang Lagu, Demokrat: Kami Positif Thinking

Demokrat menilai ucapan Hasto tidak relevan jika dinilai menyinggung SBY

26 Oktober 2021 21:45 WIB

Kamhar Lakumani
Kamhar Lakumani Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, menyebut bahwa komunikasi politik presiden tidak bisa dilakukan seperti mengarang lagu dan menulis buku tebal. Awalnya Hasto berbicara mengenai posisi jubir presiden yang kosong.

Partai Demokrat memilih berbaik sangka dengan pernyataan Hasto tersebut. Deputi Bappilu Partai Demokrat, Kamhar Lakumani, menilai tidak relevan jika pernyataan Hasto tersebut menyinggung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Terkait pernyataan Hasto, kami berbaik sangka bahwa itu bukanlah insinuasi terhadap Pak SBY, tidak pas dan tidak relevan. Adalah benar bahwa Pak SBY memiliki karya tulis berupa buku dan karya seni, tak hanya lagu saat ini juga berupa lukisan. Ini bakat luar biasa sekaligus tanda keseimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang optimal dari Pak SBY," ujar Kamhar kepada wartawan, Selasa (26/10).


Kursi Jubir Presiden Kosong, PDIP Sebut Menteri Bisa Bertindak Sebagai Jubir

Menurutnya, tidak relevan jika sindiran Hasto dikaitkan dengan jubir kepresidenan. Kamhar menyebut bahwa jubir kepresidenan di era SBY menjadi populer.

"Menjadi tak relevan sindiran Hasto jika dikaitkan dengan keberadaan jubir kepresidenan, karena meskipun Pak SBY bukan yang pertama menggunakan jubir kepresidenan namun di era Pak SBY lah peran jubir kepresidenan menjadi sangat populer yaitu Bang Andi Mallaranggeng dan Bang Dino Pati Jalal di periode pertama dan Bang Julian Aldrin Pasha di periode kedua. Mereka adalah intelektual-intelektual terkemuka dengan reputasi dan capaian yang mendapatkan pengakuan nasional dan internasional," katanya.

Kamhar menyebut jika pernyataan Hasto ditujukan untuk SBY maka menunjukkan bahwa Hasto gagal move on. Kamhar mengatakan bahwa dalam etika politik tidak baik menjelek-jelekkan penguasa pendahulunya.

Pengamat: Hasto Hattrick Serang dan Sindir SBY

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata