logo


Yaqut Klaim Kemenag Hadiah Negara untuk NU, Gerindra: Pernyataan Radikal dan Sangat Berbahaya

pernyataan tersebut membuktikan betapa kerdilnya cara berpikir Menag dalam melihat esensi keberagamaan dalam keberagaman.

25 Oktober 2021 09:42 WIB

Yaqut Cholil Qoumas
Yaqut Cholil Qoumas Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang menyebut Kementerian Agama merupakan hadiah negara bagi Nahdlatul Ulama (NU) menuai sorotan dari berbagai pihak, salah satunya dari politisi Partai Gerindra, Abdul Wachid.

Dia mengatakan pernyataan  tersebut membuktikan betapa kerdilnya cara berpikir Menag dalam melihat esensi keberagamaan dalam keberagaman.

"Katanya mengusung konsep agama yang inklusif (terbuka) tapi kok kenyataannya malah eksklusif. Pernyataan tersebut merupakan pernyataan radikal dan sangat berbahaya terhadap keberagaman yang sudah terjalin dengan baik selama ini," ujarnya di Jakarta, Minggu (24/10/2021).


Kemenag Disebut Hadiah untuk NU Bukan Umat Islam, Fadli Zon Minta Jokowi Klarifikasi

Anggota DPR ini juga menyingung soal paham radikalisme yang selama ini ditentang dan digembar-gemborkan Menag.

"Yang radikal kalau begitu siapa? Saya kira statemen semacam itu menandakan bahwa Menag hanya menganggap kebenaran hanya milik golongannya saja, ini namanya apa kalau bukan orang radikal. Sementara golongan yang lain kurang dianggap," sindirnya.

Wachid menilai, statement Menag itu bisa menimbulkan perpecahan dikalangan umat Islam itu sendiri.

"Selain itu bisa bikin gaduh antar umat beragama, juga perpecahan umat islam," tandasnya.

Wachid juga mengingatkan bahwa Indonesia dibangun bukan hanya oleh satu golongan tertentu saja melainkan semua golongan punya sumbangsih yang sama.

"Negeri ini berdiri ditopang keberagaman bukan ditopang kekerdilan. Khusus klaim dia bahwa Kemenag hadiah negara kepada NU itu sangat menyakitkan. Di dalam penganut agama islam sendiri banyak golongan," tegasnya.

Wachid mendesak agar Menag segera meralat dan mengklarifikasi pernyataan yang sudah membuat gaduh serta membuat luka pihak lainnya.

"Dia harus minta maaf kalau tidak mau minta maaf sebaiknya presiden Jokowi turun tangan dan sampaikan permohonan maaf atas kekeliruan pembantunya itu. Ini persoalan serius karena Menag Yaqut sudah menanam bibit eksklusivisme (merasa paling benar) di negeri Pancasila yang berspiritkan Bhineka Tunggal Ika," tukasnya.

Sindir Menteri Yaqut, PAN: Kenapa Menag Pertama Tokoh Muhammadiyah?

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar