logo


Turki Salahkan Rusia dan AS atas Serangan Teroris di Suriah Utara

Menteri Luar Negeri Turki mengatakan bahwa AS dan Rusia gagal memenuhi tanggung jawab untuk mengamankan wilayah Suriah dari serangan teroris

13 Oktober 2021 21:15 WIB

Menlu Turki Mevlut Cavusoglu
Menlu Turki Mevlut Cavusoglu The Greek Observer

ANKARA, JITUNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, mengatakan bahwa Rusia dan Amerika Serikat telah gagal memenuhi tanggung jawab mereka di Suriah, dan berbagi kesalahan atas serangan teroris Kurdi di wilayah Suriah yang diduduki Turki.

“Baru-baru ini, kami melihat peningkatan serangan dari PKK/YPG (Partai Buruh Kurdistan). Para teroris menembaki wilayah kami dari jarak sekitar 30 km. Kami memiliki kesepakatan dengan Rusia dan Amerika Serikat yang mewajibkan kedua negara ini untuk menyingkirkan teroris dari perbatasan kami hingga jarak minimal 30 km. Mereka gagal menepati janji mereka,” kata Cavusoglu, berbicara pada konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Nikaragua Denis Moncada Colindres pada hari Rabu (13/10).

Cavusoglu juga menuduh AS sudah memasok senjata kepada pihak teroris, dan menyatakan bahwa pernyataan dari Washington tentang 'keprihatinannya' atas serangan pasukan Kurdi tidak tulus.


Ancaman Nyata Timur Tengah Bukan Ambisi Nuklir Iran, Tapi Senjata Nuklir Israel

"Apa yang bisa kita lakukan? Kita harus menyelesaikan masalah kita sendiri. Kami akan melakukan segala yang diperlukan untuk membersihkan daerah ini dari teroris demi keselamatan kami,” katanya memperingatkan.

Sebelumnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan bahwa negaranya akan melakukan tindakan balasan menyusul laporan bahwa dua petugas polisi Turki tewas dalam baku tembak dengan pejuang Kurdi di Suriah Utara.

"Kesabaran kami sudah habis," katanya, seperti dikutip dari Daily Sabah.

"Turki bertekad untuk menghilangkan ancaman yang timbul dari Suriah utara, baik bersama dengan pasukan yang aktif di sana, atau dengan cara kami sendiri," tegasnya.

Janji Beri Bantuan Finansial hingga $692 Juta ke Afghanistan, Jerman Masih Enggan Akui Pemerintahan Taliban

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia