logo


Dicap Hitler oleh Demokrat, Yusril: Untung Tidak Dijuluki PKI

Yusril mengatakan bahwa permohonan uji materi AD/ART tidak ada literatur Hitler dengan konsep negara totaliter

11 Oktober 2021 21:38 WIB

Yusril Ihza Mahendra
Yusril Ihza Mahendra Kompas.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pengacara mantan kader Partai Demokrat (PD) yang menggugat AD/ART ke Mahkamah Agung, Yusril Ihza Mahendra menanggapi pernyataan Waketum PD Benny K Harman yang menyebut cara berpikirnya seperti Adolf Hitler. Ia lantas menyinggung Benny K Harman saat masih menjadi mahasiswa di pascasarjana Universitas Indonesia (UI).

"Seingat saya, Benny Harman mengikuti kuliah saya, Filsafat Hukum dan Teori Ilmu Hukum, ketika dia mahasiswa Pascasarjana UI. Peserta pascasarjana tidak mengesankan dirinya penganut paham Totaliter Nationale Sosialismus atau Nazi," kata Yusril seperti dalam keterangannya, Senin (11/10/2021).

"Di kampus pemikiran hukum filsafat hukum, Yusril malah dianggap terlalu Islam. Di zaman Orba, Panglima Kopkamtib Laksamana Sudomo menyebut saya ekstrem kanan," sambungnya.


Tegaskan Gugatannya Tak Aneh, Yusril: Yang Aneh Justru Sikap DPP Demokrat

Yusril mengaku ketawa saat mendapat julukan baru dari Partai Demokrat. Meski demikian, ia beruntung tidak diberi julukan PKI.

"Dua minggu lalu saya dijuluki 'pengacara Rp 100 miliar'. Sekarang saya dijuluki lagi sebagai 'Nazi pengikut Hitler'. Masih untung saya nggak dijuluki 'PKI'," ujar Yusril sembari tertawa.

Ketua Partai Bulan Bintang (PBB) itu mengatakan bahwa permohonan uji materi AD/ART tidak ada literatur Hitler dengan konsep negara totaliter. Oleh karena itu, ia merasa heran dengan pemikiran Benny yang menyebutnya seperti Hitler.

"Juga tidak ada satu kalimat pun yang menguji AD Partai Demokrat dengan rasa senang atau tidak senangnya penguasa. Maka, bagaimana Benny Harman bisa menyimpulkan saya mengikuti pikiran Hitler?" pungkasnya.

 

Prabowo Disebut Maju Pilpres 2024, Demokrat Berharap Tak Hanya 2 Paslon

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati