logo


Jokowi Putuskan Kereta Cepat Dibiayai APBN, Ibas: Jangan Sampai Besar Pasak Daripada Tiang

Presiden Joko Widodo memutuskan menggunakan APBN untuk membiayai kereta cepat Jakarta-Bandung

11 Oktober 2021 15:30 WIB

Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas).
Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). demokrat.or.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Presiden Joko Widodo memutuskan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk membiayai kereta cepat Jakarta-Bandung. Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menyarankan untuk dilakukan audit terlebih dahulu. Ia tidak ingin ada penyalahgunaan invetasi sehingga tidak memberatkan APBN.

"Fiskal negara tidak bisa terus menerus terlalu banyak hanya untuk PMN. Harus juga dihitung cost dan benefit-nya bagi BUMN. Semoga tidak semakin dalam. Jangan sampai besar pasak daripada tiang agar dapat dicapai keimbangan fiskal antar generasi," kata Ibas dalam keterangannya, Senin (11/10).

Ibas mempertanyakan rencana jangka panjang pemerintah dalam pembangunan infrastruktur.


Profesor Singapura Puji Jokowi Jenius, Gerindra: Model Demokrasi Kita Memang Unik

"Saya ingin bertanya apakah pemerintah tidak punya perencanaan jangka panjang seperti Masterplan Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi atau MP3EI? Memang berganti nama tapi hingga saat ini masih dipakai. Lalu apakah pemerintah punya fiskal dengan kemampuan besar? Kita tidak hanya butuh roadmap, tapi kita butuh roadmap yang berkelanjutan agar semua program terlaksana," ujarnya.

Waketum Partai Demokrat ini berharap Jokowi banyak meresmikan program prioritas pemerintah. Ibas berharap proyek kereta bisa cepat selesai. Menurutnya, masyarakat akan senang dengan kehadiran kereta cepat.

"Kita juga ingin presiden banyak gunting pita untuk meresmikan program, khususnya program-program prioritas. Untuk kereta cepat, juga harapannya akan cepat selesai. Walau terdapat banyak pro-kontra terkait proyek ini, namun jika bisa cepat selesai, saya yakin masyarakat akan senang. Hanya saja, dalam pelaksanaannya tetap perhatikan rencana jangka panjang, dan jangan sampai muncul preseden-preseden 'pokoknya harus jadi'. Pikirkan agar tidak ada yang dilanggar hanya karena kurang perhitungan," kata Ibas.

Profesor Singapura Sebut Jokowi Jenius, Demokrat Singgung Pujian untuk SBY

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata