logo


Soal Pembongkaran Patung Soeharto, Kostrad Beri Klarifikasi

Kostrad tidak pernah membongkar atau menghilangkan patung sejarah (penumpasan G30S/PKI) Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad

27 September 2021 16:23 WIB

Kostrad
Kostrad istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kostrad menanggapi soal kabar digelarnya diskusi bertajuk 'TNI Vs PKI' pada Minggu (26/9) malam. Dalam diskusi tersebut diputar video pendek yang memperlihatkan Museum Dharma Bhakti di Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.

Museum itu berada di bekas ruang kerja Panglima Kostrad (Pangkostrad) Mayjen Soeharto ketika peristiwa G30S/PKI terjadi. Di dalam museum itu tadinya terdapat diorama yang menggambarkan suasana di pagi hari, 1 Oktober 1965, beberapa jam setelah enam Jenderal dan seorang Perwira muda TNI AD diculik PKI yang ada di tubuh pasukan kawal pribadi presiden, Cakrabirawa.

Adegan yang digambarkan adalah saat Mayjen Soeharto menerima laporan dari Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.


Klarifikasi Semua Agama Benar, Letjen Dudung: Saya Ini Panglima Kostrad, Bukan Ulama

Sementara Menteri/Panglima TNI Angkatan Darat Jenderal AH Nasution yang selamat dari upaya penculikan PKI beberapa jam sebelumnya duduk tidak jauh dari Soeharto dan Sarwo Edhie.

"Dalam ruang kerja Pak Harto ada patung Pak Harto, Pak Sarwo Edhie, dan Pak Nasution yang menggambarkan saat kritis (setelah penculikan enam Jenderal TNI AD) dan rencana menyelamatkan negara dari pengkhianatan PKI, sekaligus peran utama Panglima Angkatan Darat, Pangkostrad, dan Resimen Parako yang kini menjadi Kopassus," kata Kapen Kostrad, Kolonel Inf Haryantana, dalam keterangannya, Senin (27/9).

Haryantara menyebut ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi terkait diskusi yang digelar secara daring tersebut. Haryantana membantah bahwa Kostrad memiliki ide untuk membongkar patung.

"Bahwa tidak benar Kostrad mempunyai ide untuk membongkar patung Pak Harto, Pak Sarwo Edhie, dan Pak Nasution yang ada dalam ruang kerja Pak Harto di Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad," tegasnya.

"Pada Hari Senin, tanggal 30 Agustus 2021, Panglima Kostrad ke-34 Letnan Jenderal TNI (Purn.) Azmyn Yusri Nasution didampingi Kaskostrad dan Irkostrad bersilaturahmi kepada Pangkostrad yang bertujuan meminta untuk pembongkaran patung-patung tersebut," jelasnya.

Haryantana mengatakan bahwa pembongkaran patung tersebut atas keinginan Letnan Jenderal TNI (Purn.) Azmyn Yusri Nasution.

"Bahwa pembongkaran patung-patung tersebut atas keinginan dan ide Letnan Jenderal TNI (Purn.) Azmyn Yusri Nasution, karena pada saat menjabat Pangkostrad periode (9 Agustus 2011 s/d 13 Maret 2012) beliau yang membuat ide untuk pembuatan patung-patung tersebut," katanya.

"Letnan Jenderal TNI (Purn.) Azmyn Yusri Nasution meminta untuk patung-patung yang telah dibuatnya untuk dibongkar demi ketenangan lahir dan batin, sehingga pihak Kostrad mempersilahkan," imbuhnya.

Haryantana menegaskan bahwa Kostrad tidak menghilangkan patung sejarah penumpasan G30S/PKI.

"Bahwa tidak benar Kostrad menghilangkan patung sejarah (penumpasan G30S/PKI). Pembongkaran patung-patung murni keinginan Letnan Jenderal TNI (Purn.) Azmyn Yusri Nasution sebagai pembuat ide," katanya.

Haryantana menyebut pemberitaan yang beredar sudah meresahkan dan merugikan TNI.

"Kami berharap adanya kerja sama yang baik dengan rekan-rekan media terkait pemberitaan yang sudah beredar, sehingga tidak meresahkan dan merugikan Institusi TNI, TNI AD khususnya Panglima Kostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman, S.E., M.M," kata Haryantana.

Minta Pemilihan Calon Panglima TNI Tak Berdasar Politik Sempit, Puan: Politik TNI Adalah Politik Negara!

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata