logo


Taliban Bakal Berlakukan Hukum Potong Tangan dan Eksekusi Mati di Afghanistan, Begini Reaksi AS

Amerika Serikat menyebut hukum potong tangan dan eksekusi mati yang akan kembali diberlakukan oleh Taliban di Afghanistan merupakan pelanggaran berat terhadap HAM

25 September 2021 18:18 WIB

Juru bicara Kemenlu AS Ned Price
Juru bicara Kemenlu AS Ned Price istimewa

WASHINGTON, JITUNEWS.COM - Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price pada Jumat (24/9) mengatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat mengutuk rencana rezim Taliban yang akan mengembalikan praktik hukum potong tangan dan eksekusi mati di Afghanistan.

Dalam sebuah konferensi pers wartawan melalui sambungan telepon, Price menyebut hukum potong tangan dan eksekusi mati terhadap para kriminal merupakan pelanggaran berat hak asasi manusia.

"Kami berdiri teguh dengan komunitas internasional untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku (hukum potong tangan) ini, dari setiap pelanggaran semacam itu," kata Price.


Dubes Myanmar Tidak Akan Pidato dalam Sidang Majelis Umum PBB

Ia menambahkan jika AS akan mengawasi sikap dan tindakan Taliban dalam menjalankan roda pemerintahan di Afghanistan sebelum mempertimbangkan untuk mengakui kelompok tersebut sebagai pemerintahan resmi.

"Kami mengawasi dengan sangat cermat dan tidak hanya mendengarkan pengumuman yang keluar, tetapi juga mengamati dengan cermat bagaimana Taliban bertindak sendiri," tukasnya.

Seperti diketahui, setelah mengambil alih pemerintah Afghanistan pada pertengahan Agustus lalu, Taliban berjanji akan kembali menerapkan aturan dan hukum syariah Islam dalam menjalankan roda pemerintahan di negara tersebut.

Hadapi Krisis Pencari Suaka, Uni Eropa Siap Bantu Lindungi Perbatasan Polandia-Belarusia

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia