logo


Aset Afghanistan Dibekukan AS, Taliban: Rezeki Tidak di Tangan Joe Biden, Eropa, Rusia atau China

Taliban mendesak AS untuk segera mencairkan aset milik Afghanistan yang mereka bekukan, karena itu adalah hak rakyat Afghanistan

24 September 2021 19:30 WIB

Taliban
Taliban twitter.com

KABUL, JITUNEWS.COM - Seorang anggota komisi politik Taliban, Anas Haqqani, mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak bisa memaksa Taliban untuk mereplikasi dan mengadopsi kebudayaan barat di Afghanistan dengan menggunakan tekanan seperti pembekuan aset.

"Uang yang dibekukan adalah hak rakyat (Afghanistan). Itu tidak ada hubungannya dengan pemerintah dan politik. Itu adalah hak nasional. Dengan aset yang beku itu, mereka (AS) tidak bisa meng-copy atau membawa budaya mereka kesini. Ini bertentangan dengan sejarah, keyakinan dan tradisi kami," katanya dalam sebuah wawancara dengan CNN.

Setelah Taliban mengambil-alih pemerintahan Afghanistan pada 15 Agustus lalu, pemerintah Amerika Serikat langsung membekukan aset negara tersebut yang disimpan dalam bentuk emas, investasi dan mata uang asing dengan total nilai mencapai USD 10 Miliar.


Prihatin dengan Perkembangan Situasi Myanmar, Komisi HAM PBB: Sangat Mengerikan dan Tragis

Washington berencana menggunakan aset beku tersebut sebagai alat untuk menekan Taliban agar menjalankan roda pemerintahan dengan baik dan menghormati hak asasi manusia, khususnya hak perempuan.

Taliban sendiri selama ini sudah menolak intervensi pihak asing yang memaksa mereka menjalankan pemerintahan Afghanistan sesuai standar barat, mendesak AS untuk segera mencairkan aset Afghanistan dan meminta komunitas internasional untuk membantu memulihkan perekonomian negaranya.

"Kami tidak akan menyerah atas hak rakyat kami...Ini bukan hak (Presiden AS Joe) Biden atau hak pemerintah AS untuk membekukan (aset Afghanistan tersebut)," lanjutnya.

“Jika dunia berpikir mereka dapat memberikan banyak tekanan pada kita melalui masalah ini [tekanan ekonomi]… itu adalah pemikiran yang sangat salah. Rezeki tidak di tangan Joe Biden, Eropa, Rusia atau China. Kami tidak akan panik dengan kesulitan ini,” tandasnya.

 

Seoul Ingin Perang Korea Diakhiri, Pyongyang: Masih Terlalu Dini

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia