logo


Seoul Ingin Perang Korea Diakhiri, Pyongyang: Masih Terlalu Dini

Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara mengatakan bahwa pihaknya tidak akan setuju untuk mendeklarasikan berakhirnya Perang Korea jika AS masih menerapkan kebijakan bermusuhan terhadap Pyongyang

24 September 2021 17:45 WIB

Bendera Korut
Bendera Korut Kumparan

SEOUL, JITUNEWS.COM - Seruan Korea Selatan untuk mendeklarasikan berakhirnya Perang Korea "masih terlalu dini" karena tidak ada jaminan itu akan mengarah pada penarikan “kebijakan bermusuhan AS” terhadap Pyongyang. Hal itu disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara, Ri Thae Song, dalam sebuah artikel yang dirilis oleh media pemerintah Korea Utara KCNA pada Jumat (24/9).

Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB pada Selasa kemarin, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in kembali meminta agar Perang Korea secara resmi diakhiri dan mengusulkan agar kedua Korea dengan Amerika Serikat, atau dengan Amerika Serikat dan China, membuat deklarasi tersebut.

Secara teknis, Korea Utara dan Korea Selatan hingga saat ini masih dalam kondisi perang, setelah konflik 1950-1953 kedua negara hanya berakhir dengan gencatan senjata dan keduanya belum menyepakati perjanjian damai.


Hubungan Bilateral Turki-AS Tak Sehat, Erdogan: Amerika Tidak Bertindak Jujur

“Tidak ada yang akan berubah selama keadaan politik di sekitar DPRK (Korea Utara) tetap tidak berubah dan kebijakan permusuhan AS tidak berubah, meskipun penghentian perang dinyatakan ratusan kali,” kata Ri Thae Song di KCNA.

“Berhentinya sikap standar ganda dari AS dan kebijakan bermusuhan adalah prioritas utama dalam upaya menstabilkan situasi semenanjung Korea dan memastikan perdamaian di atasnya,” tambah pejabat tersebut.

Pada hari Selasa, Presiden AS Joe Biden berpidato di depan majelis PBB dan mengatakan Amerika Serikat menginginkan "diplomasi berkelanjutan" untuk menyelesaikan krisis seputar program nuklir dan rudal balistik Korea Utara.

Pada pekan lalu, Korea Utara dan Selatan diketahui secara bersamaan menggelar kegiatan uji coba peluncuran rudal balistik. Namun, sejumlah negara, termasuk AS dan Inggris, hanya mengecam kegiatan Korea Utara saja, dimana hal itu disebut oleh Pyongyang sebagai sikap standar ganda AS.

Prihatin dengan Perkembangan Situasi Myanmar, Komisi HAM PBB: Sangat Mengerikan dan Tragis

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia