logo


Hubungan Bilateral Turki-AS Tak Sehat, Erdogan: Amerika Tidak Bertindak Jujur

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa hubungan AS dan Turki selama ini tetap tidak sehat. Ia mendesak AS untuk segera mengirimkan pesawat F-35 yang sudah dibayar oleh Turki

24 September 2021 16:45 WIB

Presiden AS Joe Biden dan Presiden Turki Recep Tyyip Erdogan
Presiden AS Joe Biden dan Presiden Turki Recep Tyyip Erdogan istimewa

ANKARA, JITUNEWS.COM - Hubungan bilateral Turki dengan Amerika Serikat tetap “tidak sehat,” karena Washington terus bertindak dengan cara yang tidak “jujur” terhadap Ankara. Hal itu disampaikan oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Berbicara kepada wartawan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pada Kamis (23/9), Erdogan menyinggung mengenai bekunya interaksi antara pemerintahnya dan AS. Menurutnya, perbaikan hubungan bilateral Ankara-Washington sepenuhnya berada di tangan pemerintahan Joe Biden.

Erdogan menjelaskan bahwa faktor utama keretakan hubungan bilateral tersebut adalah dikeluarkannya Turki dari program pesawat tempur generasi ke-5, F-35, oleh pemerintah AS setelah Turki membeli sistem pertahanan udara buatan Rusia, S-400.


Minta Tolong Rusia, Taliban Ingin Putus Rantai Peredaran Narkoba di Afghanistan

"Kami sudah membeli F-35, kami membayar $1,4 miliar, dan F-35 ini tidak diberikan kepada kami. Amerika Serikat perlu menyelesaikan ini terlebih dahulu,” kata Erdogan, dikutip RT.com.

"Saya tidak bisa mengatakan bahwa proses yang sehat sedang berjalan dalam hubungan Turki-Amerika," tambahnya.

Ia juga menyebut bahwa perubahan di dalam pemerintahan AS pasca terpilihnya Joe Biden sebagai presiden AS awal tahun ini, tampaknya tidak banyak membantu memperbaiki hubungan Turki-AS.

“Saya tidak bisa mengatakan kami memulai dengan baik dengan Tuan (Joe) Biden,” kata Erdogan. “Kami, Turki, bertindak jujur. Sikap kami jujur, tetapi sayangnya Amerika tidak bertindak jujur,” lanjutnya.

Turki dan Rusia diketahui sudah menandatangani kontrak S-400 pada akhir 2017, setelah selama bertahun-tahun Ankara gagal mendapatkan sistem anti-pesawat modern dari AS yang merupakan sekutu NATO-nya.

Kesepakatan Turki-Rusia senilai $2,5 miliar itu mencakup pengiriman empat baterai S-400 penuh, termasuk kendaraan dan peluncur, serta sejumlah rudal. Pengiriman dimulai kembali pada tahun 2019 dan saat ini telah diselesaikan.

Langkah Ankara tersebut memicu kemarahan dari Washington. Pemerintah AS berulang kali mencoba menekan Turki untuk membatalkan kesepakatan pembelian S-400 dari Rusia tersebut. Namun, Ankara tidak tunduk pada tekanan AS itu, dan akhirnya dikeluarkan dari program F-35. Selain itu, sektor pertahanan Turki juga menjadi sasaran sanksi AS.

China Tak Rela Taiwan Gabung Pakta Perdagangan Asia Pasifik, Taipei: China Tidak Pernah Memerintah Taiwan

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia