logo


Diplomat Senior Inggris Sebut Aliansi AUKUS Bisa Rusak NATO

Seorang diplomat senior Inggris memperingatkan jika pembatalan kontrak pembelian kapal selam dari Perancis yang dilakukan oleh Australia bisa berdampak buruk terhadap aliansi NATO

21 September 2021 18:00 WIB

Ilustrasi Kapal Selam
Ilustrasi Kapal Selam istimewa

LONDON, JITUNEWS.COM - Peter Ricketts, seorang diplomat veteran yang juga seorang mantan duta besar Inggris untuk Prancis dan sebagai perwakilan tetap untuk NATO, telah memperingatkan bahwa keputusan Australia, yang didukung oleh AS dan Inggris, untuk membatalkan kontrak senilai $40 miliar untuk 12 kapal selam dengan Prancis akan “merusak” aliansi Barat, dan dapat mendorong Paris dan Eropa secara keseluruhan untuk mencari sumber keamanan alternatif.

"Saya pikir langkah ini tentu saja merusak kepercayaan Prancis pada NATO dan (anggota)sekutu NATO, dan karena itu memperkuat perasaan mereka bahwa mereka harus mendorong otonomi strategis Eropa," kata Ricketts, berbicara kepada AFP, Senin (20/9).

“Saya pikir itu hanya dapat merusak NATO, karena NATO bergantung pada kepercayaan. Pekerjaan perbaikan harus segera dimulai,” desak mantan diplomat itu.


Cegah Eksodus Besar-Besaran dari Afghanistan, PBB Minta Komunitas Internasional Dukung Pemerintahan Taliban

Ricketts memperkirakan jika polemik tentang kapal selam tersebut akan "dikenang oleh Prancis" untuk waktu yang lama, mirip dengan keretakan hubungan antara Paris dan Washington yang terjadi setelah invasi AS ke Irak pada tahun 2003.

"Saya pikir itu akan terjadi. cenderung memperkuat perasaan di antara orang Eropa bahwa Amerika sekarang menjadi sekutu yang kurang dapat diandalkan daripada sebelumnya," tambahnya.

Untuk diketahui, polemik kapal selam antara Australia dan Perancis telah mendorong beberapa tokoh oposisi senior Prancis, termasuk Xavier Bertrand dan Jean-Luc Melenchon, mendesak pemerintah Perancis untuk mempertimbangkan langkah mundur dari aliansi NATO sebagai tanggapan atas pembatalan rencana kerja sama terkait pembelian kapal selam diesel Australia dan Perancis tersebut.

Iran Desak Lembaga Pengawas Nuklir PBB Tetap Netral

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia