logo


Aussie Batalkan Kerja Sama Kapal Selam dengan Perancis, Paris: Kesalahan Besar

Pemerintah Perancis sangat kecewa dengan langkah Australia yang membentuk aliansi AUKUS dengan Inggris dan AS yang mana membuat pemerintah Australia membatalkan rencana pembelian kapal selam dari Perancis

19 September 2021 11:04 WIB

Ilustrasi Kapal Selam
Ilustrasi Kapal Selam istimewa

PARIS, JITUNEWS.COM - Duta Besar Perancis untuk Australia, Jean-Pierre Thebault mengatakan bahwa pemerintah Australia sudah membuat sebuah "kesalahan besar" dengan membatalkan kerjasama pembelian kapal selam dari Perancis, setelah membentuk sebuah kerja sama baru dengan Inggris dan AS. Kerja sama trilateral yang bernama AUKUS tersebut membuat Australia akan mendapatkan teknologi kapal perang bertenaga nuklir dari AS dan Inggris.

Langkah yang diambil oleh pemerintah Australia tersebut telah membuat Perancis sangat kecewa sehingga mereka memutuskan untuk menarik pulang duta besarnya dari Australia dan AS.

"Ini adalah sebuah kesalahan yang besar, sangat, sangat buruk dalam menangani sebuah kerjasama karena ini bukanlah sebuah kontrak, tapi sebuah kerjasama berdasar kepercayaan, saling terbuka dan saling memahami," kata Thebault kepada para wartawan di Canberra sebelum bertolak ke Paris.


Ada Intervensi dari Taliban, Komisi HAM Afghanistan Tak Bisa Beroperasi

Pemerintah Perancis sendiri sebelumnya meyebut pembatalan kesepakatan senilai USD 40 Miliar yang disepakati oleh kedua negara pada tahun 2016 tersebut merupakan sebuah tindakan "penusukan dari belakang".

Langkah Australia tersebut juga membuat sejumlah negara khawatir, termasuk Indonesia, Malaysia, China dan Rusia.

"Isu pelanggaran non-proliferasi nuklir sedang diangkat. Mengapa? Karena Amerika Serikat dan Inggris membutuhkan waktu 17 bulan untuk memutuskan bagaimana mereka akan membantu Australia [...] menguasai teknologi pembuatan kapal selam bertenaga nuklir. Dari sudut pandang non-proliferasi, ini adalah masalah yang sangat sensitif, karena kapal selam beroperasi dengan tingkat uranium yang sangat tinggi, yang pada prinsipnya dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir," kata Dubes Rusia Mikhail Ulyanov.

"Keputusan ini cukup tidak terduga dan aneh. Mencoba menilai situasi dari sudut pandang strategis, saya tidak mengerti mengapa Australia perlu memperoleh teknologi sensitif seperti itu sekarang. Tidak ada penjelasan rasional. Ini dapat menciptakan masalah skala global bagi rezim non-proliferasi nuklir," tambahnya.

Otoritas Abu Dhabi Ijinkan Pendatang Masuk Tanpa Perlu Tes Covid-19

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia