logo


AS Akui Serangan Udaranya Salah Sasaran, Warga Sipil Kabul: Maaf Saja Tidak Cukup bagi Kami

Serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat pada 29 Agustus lalu di ibukota Afghanistan telah menewaskan sepuluh orang warga sipil

19 September 2021 06:17 WIB

Serangan drone militer AS di Kabul yang menewaskan sepuluh warga sipil Afghanistan
Serangan drone militer AS di Kabul yang menewaskan sepuluh warga sipil Afghanistan istimewa

KABUL, JITUNEWS.COM - Aimal Ahmadi, seorang warga sipil Afghanistan, mengutuk serangan udara yang dilancarkan oleh militer AS pada 29 Agustus lalu yang menewaskan sejumlah anggota keluarganya, termasuk anak perempuannya yang masih berusia tiga tahun.

Seperti diketahui, AS telah melancarkan serangan udara di Kabul untuk mengeliminasi kelompok teroris afiliasi ISIS yang bertanggung jawab atas dua insiden bom bunuh diri yang menewaskan ratusan warga sipil di bandara internasional Hamid Karzai, ditengah jalannya proses evakuasi. Tapi, serangan yang dilakukan dengan menggunakan drone atau pesawat nirawak tersebut justru menewaskan sepuluh warga sipil, tujuh diantaranya masih anak-anak.

"Saya kehilangan sepuluh anggota keluarga saya. Saya meminta keadilan dari Amerika Serikat dan organisasi internasional lain," ujarnya kepada Associated Press, pada Sabtu (18/9) dilansir Al Jazeera.


Kapal AS Kembali Transit di Selat Taiwan, China: Mereka adalah Perusak Perdamaian

"Kami adalah warga yang tidak berdosa, kami tidak melakukan kesalahan," tambahnya.

Ahmadi juga mendesak pemerintah AS untuk segera mengusut tuntas insiden "salah sasaran" tersebut dan menghukum personil militernya yang bertanggung jawab.

"Permintaan maaf saja tidak cukup bagi kami...Pemerintah AS harus menemukan seseorang yang sudah melakukan hal ini," tandasnya.

Sehari sebelumnya, Kepala Komando Pusat AS, Jenderal Kenneth McKenzie, telah mengakui bahwa serangan pesawat tak berawak AS di Kabul, Afghanistan pada 29 Agustus lalu "adalah kesalahan" dimana serangan tersebut menewaskan sebanyak 10 warga sipil termasuk tujuh orang anak-anak. Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin juga menyampaikan "belasungkawa terdalamnya" kepada anggota keluarga korban dengan mengatakan, "kami akan berusaha untuk belajar dari kesalahan mengerikan ini."

"Setelah meninjau secara menyeluruh temuan penyelidikan dan analisis pendukung oleh mitra antar-lembaga, saya sekarang yakin bahwa sebanyak 10 warga sipil, termasuk hingga tujuh anak, tewas secara tragis dalam serangan itu," kata McKenzie, dikutip Sputniknews.

"Selain itu, kami sekarang menilai bahwa tidak mungkin kendaraan dan mereka yang tewas terkait dengan ISIS-K [Daesh] atau merupakan ancaman langsung bagi pasukan AS," tambahnya.

"Saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga dan teman-teman dari mereka yang terbunuh ... Itu adalah kesalahan dan saya menawarkan permintaan maaf yang tulus," lanjutnya.

 

PM Malaysia: Kesepakatan AUKUS Bisa Jadi Katalis untuk Perlombaan Senjata Nuklir di Indo-Pasifik

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia