logo


PM Malaysia: Kesepakatan AUKUS Bisa Jadi Katalis untuk Perlombaan Senjata Nuklir di Indo-Pasifik

PM Malaysia menyampaikan kekhawatirannya mengenai adanya kesepakatan AUKUS yang membuat Australia mendapatkan teknologi kapal selam nuklir

19 September 2021 05:55 WIB

Ilustrasi Kapal Selam
Ilustrasi Kapal Selam istimewa

KUALA LUMPUR, JITUNEWS.COM - Perdana Menteri Malaysia, Ismail Sabri Yaakob, menilai perjanjian AUKUS yang telah membuat Australia mendapatkan teknologi kapal selam nuklir bisa memicu perlombaan senjata di kawasan Asia Pasifik. Ia menambahkan bahwa Australia kini terisolir dari negara-negara Asia Tenggara.

Ismail juga mengatakan sudah berbincang dengan Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, dan menyampaikan kekhawatirannya mengenai dampak terhadap stabilitas kawasan yang ditimbulkan oleh kesepakatan AUKUS antara Inggris, AS dan Australia tersebut.

"Kesepakatan AUKUS bisa menjadi katalis untuk perlombaan senjata nuklir di Indo-Pasifik, dan juga bisa memprovokasi kekuatan lain untuk bertindak lebih agresif di kawasan itu, terutama di Laut China Selatan,” kata Ismail memperingatkan.


Bukan China, AS Sebut Ancaman Terbesar Keamanan Eropa adalah Rusia

Dia kemudian meminta semua orang “untuk menghindari tindakan provokasi dan persaingan senjata di wilayah tersebut.”

Sementara itu, mantan diplomat Australia Bruce Haigh mengatakan jika kesepakatan AUKUS sudah membuat Australia "terisolasi dari Asia dan Eropa".

“Kedua wilayah itu marah dengan keputusan kapal selam Morrison/Dutton,” kata Haigh, seraya menuduh Morrison telah “berbohong ketika dia mengatakan bahwa dua wilayah itu memihak Australia.”

Malaysia bukan satu-satunya negara di kawasan yang menyatakan keprihatinan atas AUKUS tersebut.

Kementerian Luar Negeri Indonesia juga menyampaikan keprihatinan atas terus berlanjutnya perlombaan senjata dan proyeksi kekuatan militer di Asia Pasifik.

"Indonesia menekankan pentingnya komitmen Australia untuk terus memenuhi kewajibannya mengenai non-proliferasi nuklir," kata Kementerian Luar Negeri RI dalam keterangan resminya yang dirilis pada Jumat (17/9).

Sementara itu, China juga menyebut kesepakatan AUKUS merusak perdamaian dan stabilitas regional, dan membuat perlombaan senjata menjadi semakin intens.

 

Kapal AS Kembali Transit di Selat Taiwan, China: Mereka adalah Perusak Perdamaian

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia