logo


Akhiri Perang Saudara Berkepanjangan, Presiden Mesir Dukung Libya Segera Gelar Pemilu

Presiden Mesir menyatakan dukungannya terhadap gelaran pemilu di Libya guna menyelesaikan perang saudara yang hingga saat ini masih belum berakhir

16 September 2021 21:23 WIB

Presiden Mesir Abdel Fattah Al Sisi
Presiden Mesir Abdel Fattah Al Sisi Al Jazeera

TRIPOLI, JITUNEWS.COM - Presiden Mesir Abdel Fattah Al Sisi, pada Kamis (16/9) berjanji akan terus mendukung digelarnya pemilu di Libya. Hal tersebut ia sampaikan saat bertemu dengan Perdana Menteri Sementara Libya, Abdulhamid Dbeibah, beberapa hari setelah Sisi bertemu dengan komandan pasukan pemberontak Libya, Khalifa Haftar.

"Presiden (Al Sisi) menekankan pentingnya menggelar pemilu di Libya untuk menghormati dan mengaktifkan keinginan bebas...rakyat Libya," demikian pernyataan kantor kepresidenan Mesir dikutip Al Arabiya.

Sementara itu, selama kunjungannya ke Tripoli pada Selasa (14/9), perwakilan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Derek Chollet, mengatakan jika Libya kini sudah memiliki kesempatan terbaik untuk menyelesaikan perang saudara yang terjadi selama satu dekade belakangan ini.


Soal Rencana Investigasi Kejahatan HAM, Duterte Nggak Akan Ijinkan Pejabat ICC Masuk ke Filipina

Untuk diketahui, pemerintahan sementara telah dibentuk awal tahun ini untuk memimpin Libya, yang masih dilanda perang saudara, menuju pemilihan parlemen dan presiden yang rencananya akan digelar pada 24 Desember 2021.

Ketua parlemen Aguila Saleh, yang juga bertemu Sisi bersama komandan Haftar yang berbasis di Libya timur, pada pekan lalu telah meratifikasi undang-undang yang mengatur tentang proses pemilihan presiden.

Sejumlah kritikus menuduh Aguila Saleh gagal mengikuti proses hukum dan berusaha mendukung kelompok pemberontak pimpinan Khalifa Haftar.

Khalifa Haftar yang merupakan seorang jenderal militer Libya, diketahui pernah tinggal di negara bagian Virginia di Amerika Serikat selama beberapa dekade sebelum kembali ke Libya dan memimpin pasukan yang memiliki kendali de facto atas Libya timur dan sebagian selatan.

Dia digadang-gadang maju mencalonkan diri dalam pemilihan presiden negara itu akhir tahun ini.

Sementara Mesir, bersama Rusia dan Uni Emirat Arab selama ini dianggap sebagai salah satu pendukung utama pasukan Haftar dalam melawan pemerintah Libya yang mendapat dukungan dari PBB dan beberapa negara lain, termasuk Turki.

Arab Saudi Ancam Jatuhkan Denda Hingga Rp 381 Juta bagi Pelanggar Aturan Protokol Kesehatan

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia