logo


Krisis Afghanistan, NATO-Uni Eropa Tak Lagi Efektif dalam Penyelesaian Isu Internasional

Seorang anggota parlemen Uni Eropa mengatakan jika ini adalah saat yang tepat untuk menghentikan ketergantungan Uni Eropa terhadap aliansi NATO, dalam penyelesaian konflik internasional

7 September 2021 12:30 WIB

Kendaraan militer pasukan NATO di Afghanistan
Kendaraan militer pasukan NATO di Afghanistan istimewa

BRUSSELS, JITUNEWS.COM - Penarikan pasukan dari Afghanistan dan operasi evakuasi dalam skala besar dan kacau, yang selesai pada 31 Agustus 2021 lalu atau sesuai dengan tenggat waktu yang disepakati oleh AS dan Taliban, telah memicu kecemasan di antara beberapa negara Eropa mengenai keputusan Washington tersebut.

Athanasios Konstantinou, salah satu anggota Parlemen Uni Eropa, menilai Eropa seharusnya tidak lagi bergantung pada aliansi NATO yang dipimpin AS, yang "telah kehilangan kekuatannya dalam melakukan intervensi di seluruh dunia.

“Saya memberikan suara saya kepada mereka yang percaya bahwa sudah waktunya untuk penghentian Aliansi NATO. Ini secara tragis disorot oleh kegagalan Afghanistan, kekalahan historis, skala yang belum dapat kita ukur dengan benar pada saat ini," katanya, dilansir Sputniknews.


ISIS Mulai Tebar Ancaman di Perbatasan Irak, Teheran: Kami Akan Menyerang

Pada bulan Mei lalu, para menteri pertahanan Uni Eropa membahas proposal untuk membuat misi reaksi cepat yang beranggotakan 5.000 orang untuk memberikan tanggapan militer terhadap konflik di seluruh dunia pada tahap pertama mereka. Setidaknya 14 dari 27 negara anggota Uni Eropa mendukung rencana tersebut sebagai bagian dari skema blok untuk tahun depan dalam meningkatkan kemampuan militer sebagai penjamin keamanan internasional.

Konstantinou sendiri mengaku "skeptis" tentang inisiatif tersebut.

"Sehubungan dengan [untuk] kekuatan militer Eropa tertentu (sesuatu di garis Angkatan Darat Eropa permanen) sekali lagi saya berpikir bahwa [UE] tidak siap (atau bahkan bersedia) untuk menempatkan kekuatan seperti itu dalam tindakan. Saya minta maaf dan dengan segala hormat kepada kantornya, saya tidak menganggap Presiden [Dewan Eropa] Charles Michel sebagai orang yang tepat untuk merancang dan/atau menerapkan kebijakan militer untuk Uni Eropa," jelasnya.

Menurutnya, otoritas Uni Eropa pertama-tama harus mengatasi tantangan yang ada di negara-negara anggota, seperti masalah kesehatan masyarakat, pengangguran, peningkatan kriminalitas, ketidakstabilan euro, daripada mengambil tindakan di tempat lain.

"Jadi pertama-tama....kita harus menjawab semua hal di atas dan membuat orang Eropa merasa aman dan sejahtera di negara kita sendiri sebelum memikirkan intervensi 'gaya NATO' ke negara lain," tegasnya.

Krisis Afghanistan Ungkap AS-Eropa Tak Lagi Mesra seperti Sebelum Era Trump

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia