logo


Diduga Lakukan Tindak Kejahatan Perang di Afghanistan, China Minta AS dan NATO Diselidiki

Juru bicara Kemenlu China mengatakan bahwa AS dan NATO sudah membantai puluhan ribu warga sipil Afghanistan selama 20 tahun invasi mereka di negara tersebut

2 September 2021 14:00 WIB

Juru Bicara Pemerintah China Wang Wenbin
Juru Bicara Pemerintah China Wang Wenbin istimewa

BEIJING, JITUNEWS.COM - Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang wenbin mengatakan bahwa kasus pembantaian warga sipil di Afghanistan yang diduga telah dilakukan oleh pasukan koalisi AS dan NATO sejak 2001 hingga 2021 harus diinvestigasi dan semua pihak yang bertanggung jawab atas tindak kejahatan perang tersebut harus diadili.

"Nyawa dan hak asasi rakyat Afghanistan harus dilindungi. Ini semua mengenai aturan keadilan, HAM dan hukum internasional," kata Wang Wenbin, dikutip Sputniknews.

Menurut Kementerian Luar Negeri China, hingga April 2020 lalu atau pada saat AS dan Taliban menanda-tangani perjanjian damai, lebih dari 47 ribu warga sipil Afghanistan telah menjadi korban tewas akibat konflik bersenjata di negara tersebut.


Pasukan Front Perlawanan Nasional Akan Terus Perangi Taliban, Perang Sipil Afghanistan?

Informasi tentang korban sipil besar-besaran di Afghanistan sebagai akibat dari tindakan pasukan NATO pertama kali dipublikasikan pada tahun 2010, ketika WikiLeaks membocorkan lebih dari 91.000 dokumen rahasia yang diunduh dari jaringan militer AS oleh Chelsea Manning.

Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bahwa pembunuhan ratusan warga sipil tetap tidak disebutkan dalam laporan tindakan militer AS dan NATO di negara itu, yang memicu gelombang kecaman publik. Hingga saat ini, tak satu pun negara NATO yang dimintai pertanggungjawaban atas insiden tersebut.

 

Pentagon Terjunkan Ribuan Personil Militer ke Louisiana Tangani Situasi Bencana Akibat Terjangan Badai Ida

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia