logo


AS dan NATO Keluar, China Siap Alirkan Investasi ke Afghanistan

Sejumlah negara, seperti China, Rusia, India, Pakistan dan Iran, tengah berencana untuk membantu Taliban membangun kembali Afghanistan, dengan menggelontorkan aliran investasi.

25 Agustus 2021 17:00 WIB

Bendera China
Bendera China istimewa

BEIJING, JITUNEWS.COM - Sejumlah pejabat pemerintah China mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan asal Tiongkok sudah siap untuk "mengalirkan investasi dan dukungan teknis" ke Afghanistan setelah seluruh pasukan AS ditarik keluar dari negara tersebut. Meski demikian, potensi sanksi dari negara-negara barat kemungkinan akan merusak rencana tersebut.

Afghanistan sendiri bukanlah wilayah baru bagi investor China. Namun, dengan ditariknya pasukan AS serta keberhasilan Taliban mengambil alih pemerintahan, tentu saja membuat kondisi Afghanistan semakin baik di mata Beijing.

"Dalam lima tahun terakhir, kami sudah mendapatkan untung yang banyak dari rencana bisnis kami di Afghanistan, dan kami yakin operasi kami akan lebih efektif setelah situasi berhasil distabilkan," kata Cassie, seorang pekerja asal China di Kabul, kepada The Global Times pada Selasa (24/8).


Politikus Pakistan Bilang Taliban Siap Bantu Bebaskan Kashmir dari India

Karena AS selama ini dikenal suka mengejar keuntungan besar-besaran untuk perusahaan-perusahaannya di negara-negara yang mereka intervensi, para pemikir Barat berasumsi bahwa China akan memiliki perilaku yang sama di Afghanistan. Banyak artikel dan pemikiran telah ditulis tentang "$1 triliun mineral" untuk diambil dan bagaimana Beijing "akan menyelipkan Afghanistan di bawah proyek "Belt and Road Initiative", atau proyek pembangunan jalur sutera baru mereka.

Namun, Yu Minghui, Direktur Komisi Promosi Ekonomi dan Perdagangan China-Arab, mengatakan bahwa para pebisnis China memiliki niatan baik terhadap rakyat Afghanistan, termasuk dengan Taliban yang berjanji akan melindungi para investor setelah keluarnya pasukan NATO dari Afghanistan.

China sendiri bukanlah satu-satunya pihak yang berencana untuk "bermain" di Afghanistan setelah AS dan NATO keluar. Sejumlah negara lain, seperti Iran, Pakistan, dan Tajikistan juga sudah melakukan koordinasi terkait hal itu. Sementara Rusia, India, Uzbekistan dan Turki juga mengisyaratkan hal yang sama.

Pada Selasa (24/8), Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan bahwa KTT Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) yang digelar di Tajikistan serta KTT Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) akan membuat isu Afghanistan sebagai agenda utama mereka.

"Tentunya, isu Afghanistan dan konsekuensi tindakan AS, yang belum disepakati oleh semua orang dan kini berdampak terhadap kawasan kita, akan menjadi fokus perhatian," ujar Lavrov.

Sementara itu, juru bicara Taliban, Suhail Shaheen, baru-baru ini mengatakan jika pihaknya akan menyambut baik rencana Beijing mengalirkan investasi ke Afghanistan.

"Kita perlu membangun kembali negara ini dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyat kita," kata Shaheen.

"Kami juga sangat membutuhkan bantuan dari negara-negara lain," tambahnya.

AS Gunakan Pangkalan Militer Domestiknya jadi Lokasi Penampungan Pengungsi Afghanistan

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia