logo


Rusia Bilang Jalur Pipa Gas Nord Stream 2 Bakal Selesai dalam Hitungan Pekan

Jalur pipa gas Nord Stream 2 akan mengalirkan pasokan gas dari Rusia menuju Jerman melalui Laut Baltik

24 Agustus 2021 17:00 WIB

Jalur pipa gas Rusia-Jerman, Nord Stream 2
Jalur pipa gas Rusia-Jerman, Nord Stream 2 Sputnik

MOSKOW, JITUNEWS.COM - Direktur Kerjasama Ekonomi Luar Negeri Rusia, Dmitry Birichevsky, mengatakan bahwa proses pembangunan jalur pipa gas Nord Stream 2 yang akan mengalirkan gas Rusia ke Jerman, akan segera selesai dalam hitungan pekan.

"Proyek tersebut hampir sepenuhnya selesai. Masih ada beberapa pekan sebelum penyelesaian fisik konstruksinya," kata Birichevsky kepada Sputnik.

Sebelumnya, Presiden Vladimir Putin telah mengkonfirmasi jika proses pembangunan jalur pipa gas Nord Stream 2 saat ini sudah mencapai 99 persen.


Putin Minta Negara Asia Tengah Cegah Masuknya Kelompok Islam Radikal dari Afghanistan

"Ada 15 kilometer (pipa yang harus disambungkan) di seluruh dasar laut. Anda bisa mengatakan bahwa proyek ini hampir selesai," kata Putin dalam konferensi pers usai bertemu dengan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menegaskan bahwa pembangunan jalur pipa gas tersebut sangat bermanfaat bagi Rusia dan Eropa. Lavrov juga membantah jika proyek tersebut adalah salah satu upaya Rusia dalam membuat Eropa semakin ketergantungan dengan pasokan energi dari mereka.

"Kami menganggap pembangunan konstruksi jalur pipa gas Nord Stream 2 merupakan murni proyek komersial dan saling menguntungkan. Tuduhan yang menyebut jika jalur pipa ini akan meningkatkan ketergantungan Eropa terhadap suplai gas dari Rusia tidaklah benar," kata Lavrov dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Hungaria, dilansir Sputnik.

Sebelumnya, Ukraina, Amerika Serikat dan sejumlah negara lain, mengecam rencana pembangunan jalur pipa gas tersebut.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, bahkan secara terang-terangan menyebut Nord Stream 2 sebagai senjata geo-politik Rusia.

"Nord Stream 2 adalah sebuah senjata (Rusia). Moskow bisa memicu terjadinya kelangkaan pasokan di pasar gas dan hal itu membuat harga meroket. Pada hari ini, tidak perlu membeli senjata mesin untuk merusak sebuah negara. Anda bisa menggunakan instrumen ekonomi," kata Zelensky.

Pakistan Dukung Taliban Bentuk Pemerintahan yang Inklusif di Afghanistan

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia