logo


Kritik Kini Dibungkam dengan Cara Orba, YLBHI Sebut Bentuknya Serangan Netizen

Pembungkaman kritik diterapkan melalui bantuan teknologi informasi yang memanfaatkan suara warganet.

20 Agustus 2021 05:30 WIB

Ketua YLBHI Asfinawati
Ketua YLBHI Asfinawati istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM -  Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati menilai bahwa pembungkaman kritik saat ini dilakukan dengan cara yang sama pada saat orde baru (Orba) yaitu dengan pelabelan atau pemberian cap ekstrem.

Hal tersebut, ia sampaikan menanggapi tindakan aparat kepolisian yang menghapus mural kritis dan memburu pelukis beberapa mural yang dinilai menghina pemerintahan seperti mural "Jokowi 404: Not Found" hingga "Dipaksa Sehat di Negara yang Sakit".

"Dan bukan kah hal ini mengingatkan kita pada ekstrem kanan dan kiri yang sangat jargonis dan powerfull pada masa orde baru?" kata  Asfinawati dalam keterangannya, Kamis (19/8/2021).


Siap Bela Jokowi, Megawati: Mau Dibully 1.000 Kali Saya Nggak Takut!

Namun, kata dia, ada perbedaan bentuk pembungkaman kritik pada saat ini. Ia mengatakan bahwa saat ini pembungkaman kritik diterapkan melalui bantuan teknologi informasi yang memanfaatkan suara warganet.

"Nah, celakanya hal-hal lama itu diiringi dengan cara-cara baru dengan konteks dunia yang berubah ini dan kita tidak bisa tahan lajunya karena perkembangan teknologi informasi," ujarnya.

"Apa itu? Kalahnya pandangan ahli para ahli oleh netizen. Kalahnya riset serius oleh netizen bahkan dan bahkan bisa dikeroyok oleh mob di internet yang sebagiannya malah bukan manusia sungguhan, melainkan bot," sambungnya.

Asfinawati lantas mencontohkan kasus pelemahan KPK. Netizen justru menggiring opini bahwa para pakar dan ahli dibidang antikorupsi sebagai pembela Taliban.

"Seperti [label] 'Anarko' bagi mereka yang membela masyarakat tergusur, 'Membela Taliban' untuk penolak UU Revisi KPK. Padahal revisi [UU] KPK melemahkan pemberantasan korupsi dan sudah dikatakan demikian ratusan akademisi dan guru besar," pungkasnya.

Jokowi Tidak Berkenan Polisi Responsif soal Mural Kritik

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati