logo


Ini Rekomendasi TRTKM Sebelum Bubar

12 Mei 2015 10:45 WIB


PADANG, JITUNEWS.COM - Sebelum Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas (TRTKM) resmi dibubarkan, tim ini akan menyerahkan rekomendasinya terlebih dulu kepada Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said.

"Kami akan laporkan kinerja selama ini. Sekaligus perpisahan," ungkap Ketua TRTKM Faisal Basri kepada wartawan baru-baru ini saat berada di Kota Padang, Sumatera Barat.

Saat menyerahkan rekomendasi tersebut, Faisal menyampaikan, penyerahannya akan dilakukan secara terbuka. "Tak akan ada kita tutup-tutupi nantinya," ujarnya.


Jangan Khawatir, Pertamina Tambah Pasokan Gas Elpiji 3 Kg

Faisal menjelaskan, rekomendasi tersebut berisikan beberapa hal yang terkait perbaikan tata kelola sektor hulu. "Selama ini kita tidak tahu harga yang ditetapkan pemerintah itu pakai formula apa. Kan kami yang mendobrak itu, sehingga semua orang tahu harga minyak itu berapa. Formulanya ada," jelas Faisal.

Selain itu, TRTKM juga memberikan rekomendasi perbaikan di sektor hilir, misalnya saja penghapusan bahan bakar minyak (BBM) dengan kadar oktan Ron 88 (Premium) yang dianggap sebagai sarang mafia. "Dan itu terbukti," tegasnya.

Kemudian, Faisal menyebutkan, timnya juga merekomendasikan kepada Pemerintah untuk segera membubarkan Pertamina Energy Trading Limited (Petral). Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga telah memberikan instruksi yang lugas untuk membubarkan Petral, Pertamina Energy Service Pte.Ltd (PES) yang berbasis di Singapura, dan Zambesi Investement Limited yang berbasis di Hong Kong. "Zambesi tak banyak diurusi Pertamina karena tak banyak kegiatan. Tidak memberikan sumbangsih laba kepada Pertamina," tandas pria kelahiran Bandung tersebut.

Faisal juga pernah menulis dalam blognya, faisalbasri01.wordpress.com itu. Dalam blog ini, Faisal menjelaskan, bahwa pembubaran Petral sepatutnya menjadi momentum pembenahan mendasar sektor hilir Pertamina, khususnya yang berkaitan dengan perdagangan internasional. "Pandangan awam saya, kalau Petral dibubarkan, Pertamina akan beruntung," ujarnya.

Selama ini, Petral sebagai induk perusahaan mencatatkan laba sehingga harus membayar pajak kepada pemerintah administratif Hong Kong. Menurut Faisal, jika Pertamina membubarkan Petral dan kedua anak perusahaan Petral diambil alih Pertamina, maka laba PES yang selama ini dikonsolidasikan ke Petral akan masuk sebagai penerimaan pajak Pemerintah Indonesia. "Bagaimana dengan Zambesi? Karena tidak ada kegiatan usaha yang berarti, Zambesi pun seharusnya dibubarkan bersamaan dengan pembubaran Petral," katanya.

Selain itu, Faisal juga menambahkan, bahwa jika PES pun bisa dibubarkan maka berakhir sudah sejarah gelap kongkalikong antara PES dengan mafia migas. Selanjutnya, Pertamina bisa membentuk perusahaan dagang baru yang diarahkan sebagai perusahaan dagang profesional berskala internasional yang berbasis di Singapura. Perusahaan dagang yang baru ini bisa dibuat lebih ramping daripada PES dan berkonsentrasi mempersiapkan infrastruktur yang dibutuhkan untuk menjadi international oil trading company yang kompeten untuk menopang bisnis Pertamina.

Pertamina Beri Ruang, Field Tambun Berinovasi Selama Pandemi

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin