logo


Ketimbang Cat Ulang Pesawat, Mending Bantu Rakyat yang Kelaparan

Pengecatan pesawat presiden menunjukkan bahwa Jokowi tak punya sense of crisis di masa pandemi.

4 Agustus 2021 16:08 WIB

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin. wikipedia.org

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Pengecatan ulang Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 atau BBJ 2 dibanjiri kritik dari sejumlah pihak. Pasalnya, langkah itu dilakukan di tengah pandemi Covid-19, dimana masyarakat sedang mengalami kesulitan.

Pengamat politik Ujang Komarudin merupakan salah satu orang yang menolak wacana tersebut. Menurutnya, Presiden Jokowi terkesan tak memiliki sense of crisis karena sempat mengecek pesawat ketika rakyat kesusahan di masa pandemi.

“Mestinya pengecatan pesawat kepresidenan tak dilakukan, pemerintah tidak mempunyai sense of crisis, di saat rakyat sedang kesulitan dan tak bisa makan,” kata Ujang, seperti dilansir dari Pojoksatu.id, Rabu (4/8).


Pemerintah Terima Hibah 20.102 Vial Remdesivir dari Pemerintah Kerajaan Belanda

Ketimbang mengecat ulang pesawat, dosen Universitas Al-Azhar itu menyarankan Presiden Jokowi mengalihkan anggaran Rp2,1 miliar untuk meringankan beban rakyat.

“Anggaran 2,1 miliar lebih baik untuk penanganan Covid-19, bantu rakyat yang kelaparan,” jelasnya.

Tolak Wacana Cat Ulang Pesawat Presiden di Masa Pandemi, PKS: Ayo Pemimpin Contohkan Jadi Ayah bagi Rakyatnya

Halaman: 
Penulis : Iskandar