logo


Banyak Warga Sipil jadi Korban, PBB Desak Militer Afghanistan dan Taliban Lakukan Gencatan Senjata

UNAMA mendesak kelompok Taliban dan militer Afghanistan menghentikan pertempurannya karena banyaknya warga sipil yang menjadi korban

3 Agustus 2021 21:00 WIB

Konvoy kendaraan pasukan tentara pemerintah Afghanistan
Konvoy kendaraan pasukan tentara pemerintah Afghanistan Al Jazeera

KABUL, JITUNEWS.COM - Badan penyalur bantuan PBB untuk Afghanistan (UNAMA), pada Selasa (3/8) mengatakan bahwa 40 warga sipil terbunuh dan 118 lainnya terluka dalam pertempuran antara pasukan militer Afghanistan dan kelompok Taliban untuk memperebutkan kota Lashkagah, di provinsi Helmand sejak 1 Agustus lalu.

"Keprihatinan yang mendalam terhadap warga sipil Afghanistan di #Lashkagah saat pertempuran semakin memburuk. Laporan terbaru menunjukkan 118 warga sipil terluka & 40 tewas dalam 24 jam terakhir saat Taliban melanjutkan serangan darat & Tentara Afghanistan berusaha untuk mengusir (Taliban). PBB mendesak segera diakhirinya pertempuran di daerah perkotaan tersebut," cuit UNAMA.

Laporan terbaru UNAMA mengatakan setidaknya 10 warga sipil tewas dan 85 terluka di Lashkagah selama tiga hari terakhir. Di Kandahar, setidaknya 5 tewas dan 42 terluka selama periode yang sama.


Benarkan Vaksin China Efektif Cegah Gejala Berat Infeksi Varian Delta? Begini Kata Pakar Epidemiologi

Menurut badan PBB itu, korban sipil di Afghanistan pada paruh pertama tahun 2021 meningkat tajam sejak Mei, ketika pasukan militer internasional mulai menarik diri dari negara itu. Badan tersebut mendokumentasikan 1.659 kasus kematian dan 3.524 korban luka, atau meningkat 47% dibandingkan tahun 2020.

UNAMA juga memperingatkan adanya insiden penembakan tanpa pandang bulu dan pendudukan fasilitas medis, menekankan bahwa hal itu akan menjadi bencana besar.

“Serangan darat Taliban & serangan udara ANA (militer Afghanistan) paling banyak menimbulkan kerugian. Kekhawatiran mendalam tentang penembakan tanpa pandang bulu & kerusakan/pendudukan fasilitas kesehatan & rumah warga sipil. Para pihak harus berbuat lebih banyak untuk melindungi warga sipil atau dampaknya akan menjadi bencana besar,” tambah UNAMA.

 

Iran Batalkan Rencana Pertukaran Tahanan dengan AS

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia