logo


Larangan Agama Baha'i Dicabut Gus Dur Tahun 2000, Alissa Wahid: Ini Warisan yang Harus Dirawat

Alissa Wahid mengapresiasi Menag Yaqut yang memberi ucapan selamat hari raya kepada Agama Baha'i.

2 Agustus 2021 06:00 WIB

Alissa Wahid
Alissa Wahid media indonesia

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Koordinator Jaringan GUSDURian Alissa Wahid meminta samua pihak menghentikan polemik Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas yang mengucapkan selamat hari raya Naw-Ruz 178 EB ke komunitas Baha'i. Ia mengatakan bahwa agama Baha'i adalah warisan Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang harus dirawat.

"Agama Baha'i merupakan agama yang lahir di Persia pada tahun 1844. Menurut catatan Kementerian Agama, agama ini mulai masuk di Indonesia pada tahun 1878. Saat ini jumlah pengikut Baha'i sekitar 5.000 orang. Pada tahun 1962 Presiden Soekarno sempat melarang Baha'isme dengan Keppres No. 264," kata Alissa dalam laman GUSDURian, Minggu (1/8/2021).

Alissa menjelaskan bahwa agama Baha'i sempat dilarang pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, namun larangan tersebut kemudian dicabut oleh Gus Dur melalui Keppres No. 69 tahun 2000. Ia mengatakan bahwa Gus Dur mempunyai perhatian khusus terhadap hak-hak beragama kaum minoritas seperti agama Baha'i. Oleh karena itu, ia meminta agar diskriminatif terhadap agama Baha'i dihentikan.


Gus Dur Tak Ada di Kamus Sejarah, PKB: Kita Dibikin Jengkel

"Pengakuan dan perlindungan terhadap semua kepercayaan dan agama ini merupakan salah satu warisan Gus Dur yang harus dirawat dan dikembangkan sebagai bagian dari upaya kita bersama untuk menciptakan masyarakat yang adil dan non-diskriminatif. Tidak hanya terhadap umat Baha'i, Presiden Gus Dur juga bertemu dengan tokoh-tokoh agama minoritas dan aliran lainnya," tuturnya.

Lebih lanjut, ia mengaku mengapresiasi Menag Yaqut yang memberi ucapan selamat hari raya kepada Agama Baha'i.

"Mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya langkah Kementerian Agama untuk membuat ucapan selamat dalam perayaan hari besar berbagai agama yang ada di Indonesia. Hal ini merupakan bukti pengakuan pada realitas keberagaman yang ada di Indonesia dan langkah yang penting untuk memberi pengakuan pada semua agama dan kepercayaan di Indonesia, " ujarnya.

 

Desak Jokowi Evaluasi Tes KPK, Alissa Wahid: Pertanyaannya Sarat Pelecehan Terhadap Perempuan

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati