logo


Serikat Pekerja Pertamina Khawatir Subholding Pertamina Ganggu Kinerja

Harus ada penjelasan secara jelas dari pihak Pertamina terkait holding subholding dan IPO.

1 Agustus 2021 20:44 WIB

Pertamina pastikan stok BBM di SPBU reguler maupun SPBU yang berada di jalur tol aman
Pertamina pastikan stok BBM di SPBU reguler maupun SPBU yang berada di jalur tol aman Pertamina

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Presiden Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB), Arie Gumilar mengaku kecewa pihak Pertamina urung hadir dalam Webinar yang bertajuk ‘Kaji Ulang Holding Subholding dan IPO Anak Usaha Inti PT Pertamina (Persero)’ pada Sabtu (31/7) kemarin.

Arie menilai diskusi yang dihadiri oleh seribu peserta ini sangat penting dan harus ada penjelasan secara jelas terkait holding subholding dan IPO tersebut, karena menyangkut keberlangsungan hidup orang banyak.

“Seharusnya masalah ini bisa dijelaskan langsung oleh Direktur Pertamina, karena masyarakat butuh keterangan langsung apa maksud dan tujuan Holding Subholding dan IPO ini,” katanya kepada wartawan, Minggu (1/8).


Pertamina dan Hiswana Migas Salurkan Ratusan Paket Sembako ke Masyarakat Sukabumi

Apalagi, tambah Arie, penetapan Subholding tersebut telah tertuang dalam Surat Keputusan yang ditandatangani oleh Direktur Utama Pertamina. Selain itu, surat tersebut juga dikeluarkan setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang diadakan di Kementerian BUMN Jumat pagi (12/6/2020) lalu.

Arie menjelaskan, dengan terbitkannya surat keputusan tersebut ada beberapa kekhawatiran yang muncul. Pertama, berpotensi melanggar UU No.19 tahun 2003 tentang BUMN Pasal 77 huruf (c) dan (d), bahwa “Persero yang tidak dapat diprivatisasi”.

Kedua, besarnya potensi Pajak yang harus dibayarkan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia NOMOR 52/PMK.010/2017 tentang penggunaan nilai buku atas pengalihan dan perolehan harta dalam rangka penggabungan, peleburan, pemekaran atau pengambilalihan usaha.

Ketiga, transfer pricing antar subholding berpotensi menyebabkan HPP (Harga Pokok Produksi) BBM meningkat.

"Keempat, potensi terjadinya Silo Silo antar subholding karena sudah menjadi entitas bisnis yang tersendiri dan mempunyai target kinerja masing-masing," imbuh Arie.

Kelima, kemampuan subholding dalam mengemban beban penugasan BBM PSO. Karena masing-masing subholding ditarget kinerja masing-masing, maka akan memungkin antar subholding saling bersaing.

Keenam, hilangnya Previlege yang diberikan oleh pemerintah ketika subholding melakukan IPO.

Kaji Ulang Holding-Subholding dan IPO Anak Usaha Pertamina

Halaman: 
Penulis : Iskandar