logo


Pemerintah Didesak Labih Cepat Hitung Neraca Vaksin

Mulyanto mendesak Pemerintah untuk menghitung neraca vaksin secara cermat.

30 Juli 2021 16:17 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Antusiasme masyarakat yang mengikuti program vaksinasi nasional disoroti oleh Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto.

Dia mendesak Pemerintah untuk menghitung neraca vaksin secara cermat. Pemerintah disebutnya tidak cukup hanya sekedar menarget 5 juta dosis per hari.

"Karena faktanya, hingga 28 Juli 2021, Pemerintah hanya mampu menyuntikkan 800 ribu dosis per hari. Itu pun sudah dengan termehek-mehek," ujar Mulyanto melalui keterangan pers, Jumat (30/7/2021).


Ogah Polisikan Influencer yang Ngaku Terima Vaksin Ketiga, DPRD DKI: Kami Hubungi Tapi Tak Diangkat

Di satu sisi kata Mulyanto, kepala daerah sudah banyak yang teriak kehabisan vaksin. Sementara di sisi lain, Kementerian BUMN bilang ada sebanyak 12 juta dosis vaksin yang belum terpakai.

“Ada dimana barang itu? Jangan sampai vaksin ini kadaluarsa. Perlu kejelasan," tegas Legislator asal Banten itu.

Sebagaimana disampaikan Menteri Kesehatan, Pemerintah sudah mendatangkan 173.306.740 dosis vaksin. Sebanyak 64.13 juta dosis telah digunakan atau sekitar 37 persen. Dengan demikian stok vaksin tersedia sebesar 63 persen atau sebanyak 109 juta dosis. Namun sayangnya sebagian sedang dalam proses pengujian oleh BPOM.

Sementara sisanya sebagian besar masih dalam bentuk bahan baku (bulk) yang perlu proses lanjut oleh Bio Farma.

“Jadi kalau kita cermati angka-angka ini, maka ada dua titik krusial yang perlu mendapat perhatian Pemerintah, karena akan menjadi titik kemandegan, yakni vaksin yang tersisa di daerah dan lambatnya proses pengolahan bahan baku vaksin menjadi vaksin jadi di Bio Farma,” kata dia.

“Jadi memang Pemerintah tidak usah ngotot dengan mendatangkan vaksin dalam bentuk bahan baku. Merek vaksin lain dalam bentuk jadi atau yang dapat diolah oleh BUMN lain perlu diperbanyak. Tentu saja dengan mempertimbangkan tingkat keamanan, kemanjuran, kehalalan dan keekonomian," imbuhnya.

Wakil Ketua Fraksi PKS menuturkan hitung-hitungan neraca vaksin ini penting agar kecepatan dan pemerataan sebaran vaksinasi semakin proporsional sesuai dengan kebutuhan dan dapat terus ditingkatkan.

Untuk diketahui, dari sejumlah 173 juta vaksin impor yang tersedia, sebesar 85% didominasi oleh Vaksin Sinovac. Baru setelah itu Vaksin Astra Zeneca sebesar 8.6 persen. Sinopharm sebanyak 3.5 persen dan vaksin Moderna hanya 2.5 persen. Vaksin Pfizer masih nol persen.

Sampai tanggal 26 Juli 2021, jumlah orang yang telah divaksin dosis pertama sebanyak 45.5 juta orang atau 21.9 persen dari target. Sementara mereka yang telah menerima dosis lengkap sebanyak 18.6 juta orang atau sebesar 8.9 persen dari target.

Jika berdasarkan prosentase populasi sebagaimana dirilis Our World ini Data per (30/7), Indonesia baru memvaksinasi penduduknya sebesar 16.7 persen dari populasi.

"Kecepatan vaksinasi kita rata-rata masih di bawah 1 juta dosis per hari. Sementara program vaksinasi di Malaysia dan Thailand masing-masing sudah mencapai 39.7 persen dan 17.6 persen populasi. Indonesia hanya sedikit lebih baik dibanding Vietnam," pungkasnya.

Menko PMK Minta Pelaksanaan Vaksinasi di Stasiun Kereta Semakin Diintensifkan

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar