logo


Joe Biden Sebut Ekonomi Rusia Hanya Bermodal Senjata Nuklir dan Minyak, Begini Reaksi Moskow

Juru bicara pemerintah Rusia menyebut pemahaman Presiden AS terhadap Rusia tidak sepenuhnya benar

29 Juli 2021 10:45 WIB

Joe Biden (kiri) dan Vladimir Putin (kanan)
Joe Biden (kiri) dan Vladimir Putin (kanan) istimewa

MOSKOW, JITUNEWS.COM - Juru bicara Kremllin, Dmitry Peskov, pada Rabu (28/7) menyebut Presiden Joe Biden menilai Rusia hanya terbatas pada kepemilikan senjata nuklir dan cadangan minyak yang melimpah saja, tanpa memahami perkembangan yang sudah diraih oleh negaranya.

Sebelumnya, Presiden Joe Biden kembali menuduh Rusia dan China selama ini terus melancarkan serangan siber terhadap Amerika Serikat. Joe Biden juga mengatakan bahwa jika nantinya AS terlibat perang dengan sebuah negara besar, maka hal itu kemungkinan disebabkan oleh serangan siber masih terhadap Washington.

"Ia (Vladimir Putin) duduk di puncak sebuah perekonomian (negara) yang hanya memiliki senjata nuklir dan sumur minyak saja, tidak ada selain (dua hal) itu. Tidak ada lainya. Ekonomi mereka adalah...kedelapan terkecil di dunia saat ini, terbesar di dunia? Ia (Putin) tahu ia sedang dalam masalah, yang mana hal itu membuat dirinya semakin berbahaya, dalam pandangan saya," ujar Biden pada sebuah pidatonya, Selasa (27/7).


Ancam Bunuh Penasihat Kesehatan Gedung Putih, Pria AS Berhasil Dibekuk Polisi

Menanggapi pernyataan tersebut, Dmitry Peskov mengatakan bahwa klaim yang dilontarkan oleh Joe Biden tersebut tidak sepenuhnya benar.

"Mengklaim bahwa tidak ada sesuatu yang lain di Rusia adalah kesalahan," kata Peskov, dikutip Reuters.

"Ini adalah pemahaman yang tidak tepat dan sebuah kesalahan dalam memahami (situasi) Rusia modern," tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, Peskov juga menganggap bahwa Amerika Serikat masih merupakan musuh Rusia meski sejumlah perwakilan kedua negara pada Rabu (28/7) menggelar pertemuan di Jenewa untuk membahas mengenai isu stabilitas nuklir strategis.

"(AS) sangat sulit untuk bisa disebut sebagai sebuah negara sahabat. Mereka lebih seperti sebuah musuh," lanjut Peskov.

"Meski demikian, fakta bahwa sejumlah pakar sedang duduk (bertemu) di Jenewa hari ini adalah sebuah tanda positif," tukasnya.

Kasus Infeksi Covid-19 Tak Kunjung Turun, Sydney Perpanjang Lockdown hingga 4 Pekan

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia