logo


Dinilai Tepat, SETARA Institute Sambut Baik Sikap Menag Ucapkan Selamat Hari Raya untuk Baha’i

SETARA Institute menyambut baik sikap Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas

29 Juli 2021 09:49 WIB

Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos (kedua dari kiri) saat melakukan konferensi pers di Kantor Setara Institute, Jakarta, Selasa (1/8).\n\n
Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos (kedua dari kiri) saat melakukan konferensi pers di Kantor Setara Institute, Jakarta, Selasa (1/8). Jitunews/Khairul Anwar

JAKARTA, JITUNEWS.COM- SETARA Institute menyambut baik sikap Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang memberi ucapan selamat Hari Naw-Ruz 178 EB yang disampaikan oleh Menag kepada umat Baha'i.

“SETARA Institute mengapresiasi ucapan Selamat Hari Raya kepada umat Baha’i yang disampaikan oleh Menteri Agama,” ujar Wakil Ketua SETARA Institute, Bonar Tigor Naipospos di Jakarta, Rabu (28/7/2021).

Ucapan tersebut merefleksikan sikap pemerintah yang bersandar sepenuhnya kepada Konstitusi Negara, UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945, khususnya Pasal 28 ayat (1) dan (2), serta Pasal 29 ayat (2) yang dirumuskan secara langsung oleh para pendiri negara, bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu".


Arif Wibowo Resmi Pimpin Garuda Indonesia

“Sikap konstitusional dan kenegarawanan demikian hendaknya direplikasi dalam aneka perlakuan negara terhadap seluruh kelompok agama yang lain di negara kita,” tuturnya.

Dalam hal ini, SETARA Institute mengingatkan seluruh elemen pemerintahan negara bahwa Baha’i merupakan entitas kolektif sekelompok anak bangsa yang dijamin eksistensinya, memiliki legitimasi, dan dilindungi berdasarkan hak atas kebebasan pikiran, hati nurani, dan agama/keyakinan.

“Keputusan Presiden RI No 69 Tahun 2000 menegaskan jaminan atas eksistensi Baha’i. Oleh karena itu, sikap Menteri Agama sudah semestinya mendapatkan dukungan dari jajaran pemerintahan yang lain,” kata dia.

SETARA Institute juga mendorong tokoh-tokoh agama, elite politik, dan tokoh-tokoh masyarakat untuk membangun inisiatif dan mendorong kehendak masyarakat untuk hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence) ditengah perbedaan dan tata kebinekaan kita, termasuk dengan komunitas Baha’i.

“Dalam konteks itu, provokasi dan hasutan yang memancing kecurigaan terhadap eksistensi Baha’i dan memicu segregasi antar kelompok anak bangsa hendaknya dihentikan,” pungkasnya.

Wahh, Usai RUPS 6 Direksi Garuda Dicopot

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar