logo


Dituduh Dukung Gerakan Anti Vaksin Covid-19 di Perancis, Begini Reaksi Rusia

Kedutaan Besar Rusia di Perancis mengecam pernyataan salah satu anggota parlemen Perancis yang menuding Rusia telah mendukung komunitas anti-vaksin Covid-19

27 Juli 2021 12:30 WIB

Ratusan ribu warga Perancis di sejumlah kota menggelar aksi unjuk rasa menentang keputusan pemerintah menjadikan vaksin Covid-19 sebagai syarat untuk melakukan perjalanan atau menggunakan fasilitas umum
Ratusan ribu warga Perancis di sejumlah kota menggelar aksi unjuk rasa menentang keputusan pemerintah menjadikan vaksin Covid-19 sebagai syarat untuk melakukan perjalanan atau menggunakan fasilitas umum Sputniknews

MOSKOW, JITUNEWS.COM - Kedutaan Besar Rusia di Prancis pada hari Senin menyatakan kemarahan mereka atas pernyataan Christophe Castaner, pemimpin "La Republique En Marche!" kelompok di parlemen Perancis yang menuding jika Moskow terlibat dengan komunitas anti-vaksinasi di media sosial.

Pada hari Kamis pekan lalu, Castaner menjawab dengan tegas ketika ditanya oleh pembawa acara stasiun radio Prancis RMC bahwa negara lain, termasuk Rusia, kemungkinan berada di belakang kelompok komunitas anti vaksin Covid-19 tersebut.

"Dengan terkejut dan marah kami mendengar klaim Christophe Castaner bahwa 'Rusia atau negara lain' mungkin berada di belakang kelompok komunitas pendukung anti-vaksin di media sosial. Kami ingin menggarisbawahi bahwa kami dengan tegas mendukung cakupan vaksin maksimum kepada seluruh populasi planet [melawan COVID-19]," tulis kedutaan Rusia tersebut di Facebook.


Varian Delta, Pemerintah AS Tak Akan Longgarkan Aturan Pembatasan Perjalanan Internasional

Kedutaan Rusia juga mengecam sikap pemerintah Perancis yang sejauh ini masih enggan mengakui vaksin Sputnik V Rusia, vaksin pertama yang digunakan untuk manusia, sebagai vaksin yang efektif dalam mencegah infeksi Covid-19. Rusia menyebut ada alasan politik yang mendasari Perancis dan Eropa enggan memberikan ijin penggunaan vaksin Sputnik V.

Sputnik V merupakan sebuah vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh lembaga penelitian Rusia, Gamaleya, dimana vaksin tersebut telah mendapat ijin penggunaan darurat di 69 negara di seluruh dunia.

China Kembali Desak AS Perbaiki Hubungan Bilateral

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia