logo


Dituduh Lakukan Pelanggaran HAM, Duterte: Bagi Mereka yang Menghancurkan Negara Saya, Saya Akan Membunuhmu

Presiden Duterte menegaskan bahwa dirinya tetap akan berupaya memberantas peredaran narkoba di Filipina meski dituding melakukan tindak pelanggaran HAM dalam upaya tersebut.

27 Juli 2021 09:24 WIB

Presiden Filipina Rodrigo Duterte
Presiden Filipina Rodrigo Duterte nypost

MANILA, JITUNEWS.COM - Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Senin (26/7) menyatakan bahwa perang melawan narkotika di negaranya masih jauh dari kata selesai, meski saat ini sudah tahun kelima sejak ia memulai pertempuran brutal melawan peredaran obat-obatan terlarang dan menewaskan ribuan orang sehingga Duterte dituding melakukan tindak kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dalam sebuah pidatonya, ia menegaskan bahwa perang tersebut harus ia lakukan untuk meningkatkan perdamaian dan tatanan aturan hukum.

"Kita masih punya jalan panjang dalam pertempuran melawan penyalahgunaan narkoba," kata Duterte, dikutip Reuters.


Pesan untuk China, AS Kerahkan Puluhan Pesawat Tempur Canggih F-22 Raptor ke Pasifik Barat

Duterte yang kini berusia 76 tahun diketahui tidak lagi dapat terpilih atau mencalonkan diri sebagai presiden dalam pilpres Filipina selanjutnya. Meski demikian, ia sudah mengisyaratkan bahwa dirinya kemungkinan masih akan maju sebagai wakil presiden.

Pada bulan lalu, jaksa penuntut dari Pengadilan Pidana Internasional (ICC) berencana untuk melakukan investigasi resmi terkait tindak pembunuhan yang dilakukan oleh Duterte dalam perang melawan narkoba. ICC menilai Duterte kemungkinan sudah melakukan tindak kejahatan terhadap kemanusiaan.

Tak gentar dengan tudingan tersebut, Duterte mengatakan bahwa dirinya tidak pernah membantah bahwa ia akan membunuh semua orang yang berencana menghancurkan negaranya.

"Saya tidak pernah membantah, dan ICC bisa merekamnya: Bagi mereka yang menghancurkan negara saya, Saya akan membunuhmu. Dan bagi mereka yang menghancurkan generasi muda negeri ini, Saya akan membunuhmu. Saya benar-benar akan menghabisimu, karena saya cinta negara saya," tegas Duterte.

Sejumlah kelompok pembela HAM juga menuduh Duterte melakukan tindak kekerasan dan kepolisian Filipina telah membunuh orang-orang yang tidak bersenjata yang mereka anggap sebagai pengedar narkoba tanpa proses penyelidikan yang lebih lanjut.

"Duterte tidak punya sesuatu untuk ditunjukkan sebagai bentuk janjinya lima tahun yang lalu untuk menyingkirkan peredaran obat-obat terlarang, tidak ada sesuatu yang bisa ditunjukkan kecuali mayat-mayat yang dibunuh oleh polisi," kata Carlos Conde, salah satu tokoh peneliti HAM Filipina.

Pada 2016 lalu, Duterte memenangi Pilpres dan berjanji akan memerangi korupsi, kejahatan dan peredaran narkoba. Meski demikian, menurut Reuters, tingkat popularitas dan elektabilitas Duterte sendiri sejauh ini masih cukup tinggi meski adanya tudingan pelanggaran HAM dan tindakannya dalam menangani situasi pandemi.

Alami Kerugian US$ 6,6 Miliar, Operator Bandara Heathrow Desak Inggris Buka Kembali Perjalanan bagi Warga yang Sudah Divaksin

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia