logo


Triliunan Dolar yang Sudah Dihabiskan oleh AS di Perang Irak dan Afghanistan Berakhir Sia-Sia

Seorang mantan intelijen CIA meyakini jika proses penarikan keluar pasukan AS di Afghanistan tidak akan berjalan dengan lancar

26 Juli 2021 13:45 WIB

Pasukan AS
Pasukan AS istimewa

WASHINGTON, JITUNEWS.COM - Pemerintah Amerika Serikat telah menghabiskan triliunan dolar dalam perang di Afghanistan dan Irak namun gagal mencapai tujuan mereka. Hal itu disampaikan oleh mantan anggota intelijen CIA, Philip Giraldi melalui artikelnya yang dimuat dalam Strategic Cultur Foundation.

"Tidak hanya berperang di Afghanistan dan Iran yang membuat situasi di sana semakin memburuk, tapi juga fakta bahwa tidak ada seorang pun di Washington yang dapat mendefinisikan "kemenangan" dan berpikir dalam hal strategi keluar berarti bahwa perang dan ketidakstabilan masih bersama kita," tulis Giraldi, dikutip Sputniknews.

"Di belakang mereka ada ratusan ribu kematian dan triliunan dolar dihabiskan secara sia-sia," tambahnya.


Demo Tolak Aturan Wajib Vaksin Covid-19 di Yunani Berakhir Ricuh

Ia juga menyinggung soal perkembangan situasi di Irak. Menurutnya, Baghdad saat ini sudah memiliki sebuah hubungan yang lebih kuat dengan Teheran dibanding dengan Washington.

"Faktanya, parlemen Irak sudah meminta pasukan AS untuk meninggalkan negaranya, sebuah permintaan yang selama ini diabaikan oleh Donald Trump dan Joe Biden. Trump sebenarnya pernah mengancam untuk membekukan aset bank Irak untuk menekan (pemerintah) Irak agar mau menerima pendudukan AS," tambahnya.

Ia juga mengkritisi kehadiran pasukan militer AS di wilayah Suriah, yang mana pemerintahan Bashar al Assad tidak meminta AS untuk mengintervensi konflik dalam negerinya.

"Pada saat bersamaan, pasukan AS secara ilegal hadir di Suriah, melanjutkan pendudukan mereka di sejumlah ladang minyak," lanjut mantan intelijen AS tersebut.

Menurutnya, tidak mengejutkan jika penarikan pasukan AS dari konflik Afghanistan, tidak akan berjalan lancara seperti yang diharapkan oleh Gedung Putih.

"AS menarik prinsip dasar mereka dari negara tersebut, pangkalan udara Bagram, di tengah malam tanpa memberitahu komandan pangkalan Afghanistan. Sebuah aksi penjarahan atas perlengkapan (AS) yang tertinggal kemudian terjadi," ungkapnya.

Sementara itu, jelang penarikan seluruh pasukan AS dari Afghanistan yang tenggat waktunya jatuh pada akhir Agustus mendatang, kelompok militan Taliban semakin meningkatkan intensitas serangan agresifnya untuk merebut dan menguasai wilayah negara tersebut. Hal itu membuat AS terpaksa membantu pasukan militer Afghanistan dengan melancarkan serangan udara terhadap kelompok Taliban, sebuah langkah yang bertentangan dengan perjanjian yang disepakati oleh AS dan Taliban pada Februari 2020 lalu.

“Jadi keluar dari Afghanistan akan jauh lebih sulit daripada masuk,” Giraldi menyimpulkan.

“Dan tidak dapat dielakkan fakta bahwa seluruh petualangan Afghanistan adalah pemborosan, baik nyawa dan sumber daya. Lain kali, mungkin Washington akan ragu untuk menyerang, tetapi mengingat kurangnya pemikiran mendalam yang terjadi di Gedung Putih, Saya menduga kita orang Amerika dapat dengan mudah menemukan diri kita di Afghanistan yang lain."

 

Bantu Italia Tangani Karhutla Pulau Sardinia, Uni Eropa Kirim 4 Unit Pesawat Pemadam Api

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia