logo


Rusia Bilang Negara ASEAN dan TimTeng Banyak yang Tertarik Beli Pesawat Tempurnya

Rusia saat ini tengah menggelar pameran dirgantara MAKS-2021 di Moskow

21 Juli 2021 20:03 WIB

Salah satu pesawat tempur buatan Rusia yang dipamerkan dalam ajang MAKS-2021
Salah satu pesawat tempur buatan Rusia yang dipamerkan dalam ajang MAKS-2021 istimewa

MOSKOW, JITUNEWS.COM - Direktur Lembaga Kerjasama Teknis Militer Rusia, Dmitry Shugayev, mengatakan bahwa sebuah prototype pesawat tempur bermesin tunggal buatan Rusia yang dipamerkan pada ajang pameran dirgantara Moskow, MAKS-2021, kemungkinan besar akan menarik minat dari negara-negara di Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia Tenggara. Pameran tersebut digelar mulai dari tanggal 20 hingga 25 Juli.

"Timur Tengah mungkin akan sangat tertarik, seperti halnya negara-negara di Asia Tenggara dan Afrika Utara," kata Shugayev, dikutip Sputniknews.

Ia menambahkan bahwa sejumlah jet tempur bermesin tunggal tersebut lebih murah dan lebih kompetitif serta didesain cocok untuk sejumlah misi pertempuran ringan udara.


Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan, Prajurit Veteran: Kita Telah Kalah Perang

"Secara objektif, kemampuan 'top item' (seperti pesawat tempur Su-57) tidak selalu diperlukan, pesawat ini mungkin hanya akan menjadi hal yang berlebihan," lanjutnya.

Su-57 sendiri adalah sebuah pesawat tempur multifungsi generasi kelima Rusia yang didesain untuk menghancurkan segala jenis target, baik di udara, di darat maupun di permukaan laut. Pesawat ini memiliki kecepatan supersonik dan sangat sulit untuk terdeteksi radar.

Dmitry Shugayev sebelumnya mengatakan bahwa pihaknya sudah memulai proses negosiasi awal dengan calon pembeli pesawat tempur Su-57 dari sejumlah negara.

"Negara-negara sahabat sangat tertarik, kami sedang melakukan negosiasi tahap awal dengan beberapa negara," katanya.

"Kami melihat adanya ketertarikan yang luar biasa terkait pesawat generasi kelima Su-57 yang mahal namun menjanjikan ini. Biasanya, negara-negara yang dapat membeli mesin berteknologi canggih dengan karakteristik seperti itu adalah negara yang bisa kami sebut sebagai negara yang layak dipertimbangkan," tukasnya.

 

Berbagi Ruang Tahanan dengan Ratusan Penderita Covid-19, Tapol Myanmar Hembuskan Nafas Terakhir

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia