logo


Pentagon Akui Beberapa Tersangka Pembunuh Presiden Haiti Pernah Dapat Pelatihan Militer dari AS

Juru bicara Kementerian Pertahanan AS mengakui bahwa beberapa tersangka kasus pembunuhan Presiden Haiti Jovenel Moise, sebelumnya sudah pernah mengikuti program latihan militer dari AS

16 Juli 2021 12:05 WIB

Presiden Haiti Jovenel Moise yang tewas usai diserang sekelompok orang bersenjata tak dikenal di kediaman pribadinya pada Rabu (7/7)
Presiden Haiti Jovenel Moise yang tewas usai diserang sekelompok orang bersenjata tak dikenal di kediaman pribadinya pada Rabu (7/7) istimewa

WASHINGTON, JITUNEWS.COM - Kementerian Pertahanan AS mengakui bahwa beberapa tersangka pembunuhan Presiden Haiti Jovenel Moise telah menerima pelatihan dari militer AS.

"Sebuah kajian dari database pelatihan kami mengindikasikan bahwa sejumlah individu asal Kolombia yang ditahan dalam proses investigasi (kasus pembunuhan Presiden Moise) sebelumnya telah ikut berpartisipasi dalam pelatihan dan program pendidikan militer AS, saat mereka masih menjabat sebagai anggota aktif pasukan militer Kolombia," kata juru bicara Pentagon Letkol Ken Hoffman, pada Kamis (15/7), dikutip Russia Today.

Pernyataan Hoffman tersebut pertama kali dilaporkan oleh media AS the Washington Post. Meski demikian, Hoffman tidak menjelaskan secara detail berapa jumlah tersangka yang sebelumnya mendapat pelatihan militer dari AS tersebut.


AS Minta Dukungan dari Negara-negara di Asia Tengah untuk Selesaikan Konflik Afghanistan

Sebelumnya, pemerintah Haiti mengatakan bahwa mereka telah menangkap 28 tentara bayaran asing yang mayoritas berkewarganegaraan Kolombia, termasuk dua orang berkewarganegaraan Haiti-AS. Mereka ditangkap usai diduga terlibat dalam insiden penyerangan yang menewaskan Jovenel Moise pada 7 Juli lalu.

Pada Senin awal pekan ini, beredar laporan jika salah satu dari tersangka pembunuhan Presiden Moise merupakan mantan informan untuk Lembaga Pengawas Obat-obatan AS (DEA), dan beberapa tersangka lainnya kemungkinan memiliki hubungan dengan lembaga intelijen AS, FBI.

 

WHO Minta China Transparan soal Data Virus Covid-19

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia