logo


Lithuania Bentangkan Blokade Kawat Berduri Sepanjang 550 Km di Sepanjang Perbatasan dengan Belarus

Blokade tersebut dibangun untuk mencegah masuknya imigran ilegal dari Belarus ke Uni Eropa

9 Juli 2021 20:04 WIB

Presiden Belarus Alexander Lukashenko
Presiden Belarus Alexander Lukashenko Tass

VILNIUS, JITUNEWS.COM - Lithuania mulai membangun blokade berupa kawat berduri sepanjang 550 km (320 mil) di perbatasannya dengan Belarus pada Jumat (9/7) setelah menuduh pihak berwenang Belarusia dengan sengaja mengirim migran dari luar negeri secara ilegal ke wilayah Uni Eropa.

Pemerintah mengatakan kawat berduri tersebut akan menelan biaya 4,9 juta euro ($ 5,81 juta) untuk dipasang dan dibentangkan di sebagian besar perbatasan, khususnya di wilayah yang berpenduduk jarang, serta kawasan hutan dan rawa yang luas.

Di kemudian hari penghalang itu akan diperkuat dengan pagar perbatasan setinggi dua meter (6,5 kaki) yang dilengkapi dengan kawat berduri di bagian atasnya, dengan biaya tambahan 41 juta euro. Hal itu disampaikan oleh Kementerian dalam negeri Lithuania.


Tekanan Maksimum AS terhadap Teheran Gagal, Iran dan India Bakal Kembali Tingkatkan Kerja Sama Bilateral

Otoritas Lithuania mengatakan bahwa ratusan migran telah menyeberang dari wilayah Belarus dalam beberapa hari terakhir, kebanyakan dari mereka adalah warga negara Irak.

Belarus pada bulan Mei lalu memutuskan untuk mengizinkan para migran memasuki Lithuania sebagai pembalasan atas sanksi yang dijatuhkan oleh Uni Eropa setelah Minsk memaksa pesawat Ryanair mendarat darurat untuk menangkap seorang tokoh oposisi.

"Jika seseorang berpikir kami akan menutup perbatasan kami dengan Polandia, Lituania, Latvia, dan Ukraina dan akan menjadi tempat penampungan bagi mereka yang melarikan diri dari Afghanistan, Iran, Irak, Libya, Suriah, Tunis, dan lebih jauh ke Afrika - jika seseorang berpikir demikian, dia adalah sesat," kata Presiden Belarus Alexander Lukashenko pada Selasa lalu.

Lukashenko menambahkan bahwa pihaknya akan menjaga perbatasan jika itu "menguntungkan" baginya.

Semua Pasukan AS Keluar dari Afghanistan pada Akhir Agustus, Joe Biden: Kami Mengakhiri Perang Terpanjang Amerika

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia