logo


Rusia Dituding Gunakan Nord Stream 2 sebagai Senjata untuk Hancurkan Ekonomi Ukraina dan Eropa

Presiden Ukraina menganggap proyek jalur pipa gas Nord Stream 2 merupakan alat Rusia untuk menghancurkan perekonomian Ukraina dan negara-negara Eropa

5 Juli 2021 20:15 WIB

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky istimewa

KIEV, JITUNEWS.COM - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menyebut jalur pipa gas Nord Stream 2 yang menghubungkan Rusia dengan sejumlah negara Eropa barat merupakan sebuah senjata yang digunakan oleh Moskow untuk menghancurkan kepentingan Ukraina.

"Tantangan terbesar yang dihadapi oleh Ukraina saat ini dalam sektor energi adalah penyelesaian dan peluncuran jalur pipa gas Nord Stream 2. Peluncuran operasionalnya sama sekali tidak berkaitan dengan perekonomian. Ini hanyalah sebuah senjata untuk melawan Ukraina, dan saya meyakininya, sebagai senjata melawan seluruh Eropa di masa depan," kata Zelensky dalam sebuah forum politik pada Senin (5/7), dikutip Sputniknews.

Oleh karena itu, presiden Ukraina tersebut meminta negara barat sekutunya untuk mengunakan torpedo untuk menggagalkan sekaligus menghancurkannya jalur pipa gas yang digadang-gadang mampu membawa sekitar 55 miliar meter kubik gas per tahun melalui Laut Baltik, melewati wilayah Ukraina.


Covax Tak Kunjung Kirim Vaksin Covid-19 ke Venezuela, Maduro Layangkan Ultimatum

Sementara itu, pemerintah Rusia berulang kali membantah jika mereka menggunakan Nord Stream 2 sebagai sebuah alat dalam melawan Eropa, meski sejumlah negara di benua tersebut mendesak Uni Eropa untuk menghentikan kerjasamanya dengan Moskow dan mendukung AS menjatuhkan sanksi terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam proyek tersebut.

Menurut kepala operator migas Ukraina (GTS), Sergiy Makogon, jalur pipa gas Nord Stream 2 akan membuat Ukraina mengalami kerugian hingga USD 5 hingga 6 miliar per tahun, mengingat salah satu sumber devisa Ukraina selama ini bergantung pada tarif transit gas Rusia yang akan dikirim ke Eropa.

Rusia Sebut Aksi Provokasi Seperti Masuknya Kapal Perang Inggris Harus Direspon dengan Tegas

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia