logo


Frustrasi Di-PHP-in NATO, Ukraina: Berapa Banyak Reformasi yang Anda Inginkan?

Rencana Ukraina untuk bergabung menjadi anggota NATO sejauh ini masih belum menemui titik terang

22 Juni 2021 15:47 WIB

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry Kuleba
Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry Kuleba istimewa

KIEV, JITUNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry Kuleba, mengungkapkan rasa frustrasinya usai NATO sejauh ini belum memberikan kejelasan mengenai apa yang harus dilakukan oleh Ukraina terlebih dahulu untuk dapat bergabung dengan aliansi pertahanan tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan media Turki, Anadolu, pada Senin (21/6), Kuleba mengatakan bahwa meski dalam sebuah KTT yang digelar pada 2008 lalu sejumlah pemimpin NATO setuju dengan rencana bergabungnya Ukraina dan Georgia ke dalam NATO, tapi NATO belum mengambil satu pun langkah pendekatan atau komitmen untuk rencana tersebut.

Dia bersikeras bahwa Kiev telah memulai program reformasi untuk mengatasi korupsi dan meningkatkan angkatan bersenjatanya, tetapi upayanya sejauh ini sia-sia karena NATO tidak pernah mempertimbangkan hal tersebut.


Dicurigai Jadi James Bond, Pria Rusia Ditangkap oleh Otoritas Jerman

"Berapa banyak reformasi yang Anda inginkan?" ujarnya.

Ia meminta agar NATO harus memberikan "daftar yang jelas" tentang apa yang perlu dilakukan oleh Ukraina untuk dapat bergabung.

Awal bulan ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga menyampaikan rasa frustrasinya usai NATO tak kunjung memenuhi janji untuk mengijinkan Ukraina bergabung. Kendati demikian, Zlensky masih memiliki keyakinan jika negaranya mampu menjadi anggota NATO dengan persetujuan AS.

“Saya harus menunjukkan bahwa banyak orang Ukraina semakin tidak percaya akan hal ini sekuat dulu,” kata Zelensky.

“Saya pikir jika kita diterima di NATO, jika mereka benar-benar ingin melihat kita sebagai anggota, maka tidak ada gunanya melihat melalui teropong ke masa depan yang jauh … Masalah ini harus segera diselesaikan. Kami dalam bahaya sekarang, kemerdekaan kami dipertaruhkan sekarang, dan sekarang kami membutuhkan bantuan,” tandasnya.

Seperti diketahui, Ukraina saat ini tengah terlibat konflik perang saudara dengan kelompok separatis yang mendapat dukungan dari Rusia.

Diduga Monopoli Pasar, Otoritas Jerman Investigasi Apple

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia