logo


Negara Barat Lebih Fokus Isu Pelanggaran HAM di Xinjiang daripada Kashmir, Pakistan: Munafik

Perdana Menteri Pakistan menyebut negara-negara barat selama ini mengabaikan isu pelanggaran HAM yang terjadi di Kashmir

21 Juni 2021 21:00 WIB

Presiden China Xi Jinping bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan
Presiden China Xi Jinping bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan istimewa

ISLAMABAD, JITUNEWS.COM - Perdana Menteri Pakistan Imran Khan mengatakan bahwa situasi dan kondisi di wilayah Jammu dan Kashmir yang dikelola oleh India "lebih" menjadi perhatiannya daripada dugaan penindasan terhadap Muslim Uyghur di Xinjiang China".

“Kenapa ini menjadi masalah besar bagi dunia Barat. Mengapa orang-orang Kashmir diabaikan? Ini jauh lebih relevan. Dibandingkan dengan apa yang mungkin terjadi dengan Uyghur, 100.000 warga Kashmir telah terbunuh. Di sana ada 800.000 Pasukan India...," kata Perdana Menteri Pakistan tersebut dalam sebuah wawancara dengan Axios.

"Secara harfiah, ini adalah penjara terbuka di Kashmir. Sembilan juta warga Kashmir ditempatkan di sana. Mengapa itu tidak menjadi masalah? Saya pikir ini (sikap) munafik," tambah Khan.


AS Bilang China Bakal Terkucilkan, Begini Reaksi Beijing

"Saya melihat ke seluruh dunia. Apa yang terjadi di Palestina, Libya, Somalia, Suriah, dan Afghanistan. Apakah saya akan mulai berbicara mengenai semuanya? Saya berkonsentrasi pada apa yang terjadi di perbatasan saya, di negara saya," lanjutnya PM Pakistan.

Dia membenarkan pernyataannya tersebut dengan menyatakan bahwa "setengah dari Kashmir adalah bagian dari Pakistan".

Sementara itu, pemerintah India selama ini juga menolak kritikan yang dilayangkan oleh pihak luar negeri terkait isu Kashmir, dimana New Delhi menyebutnya sebagai "masalah internal" India.

Pada kesempatan tersebut, Imran Khan menolak untuk berkomentar terkait dugaan pelanggaran di wilayah Xinjiang, dengan menyatakan bahwa Islamabad telah membahas semua masalah tersebut dengan Beijing secara tertutup.

"China telah menjadi salah satu teman terbaik bagi kami di masa-masa tersulit kami. Ketika kami benar-benar berjuang, ekonomi kami sedang berjuang, China datang untuk menyelamatkan kami. Jadi, kami saling menghormati apa adanya dan masalah apa pun yang kami miliki, kami berbicara secara tertutup," tegasnya.

Presiden Baru Iran: Kebijakan Luar Negeri Kami Tidak Akan Terbatas pada Kesepakatan Nuklir

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia