logo


Jumlah Warga Sipil Myanmar yang Gabung dengan Pasukan Pemberontak Semakin Meningkat

Warga sipil Myanmar kini memilih untuk bergabung dengan pasukan pemberontak ataupun kelompok militan bersenjata guna melawan rezim militer.

16 Juni 2021 21:00 WIB

Pasukan Pemberontak Myanmar, KNU
Pasukan Pemberontak Myanmar, KNU kompas

YANGON, JITUNEWS.COM - Situasi krisis politik dan berlanjutnya tindak kekerasan memaksa warga sipil Myanmar kini bergabung dengan berbagai kelompok militan pemberontak untuk melawan rezim militer.

"Sebelum aksi kudeta, saya bahkan tidak mampu membunuh satu pun hewan," kata Andrew, nama samaran dari seorang warga sipil Myanmar, kepada Al Jazeera.

"Namun saat saya melihat pasukan militer membunuh warga sipil, saya merasa sangat sedih dan sangat terganggu...hingga timbul keinginan dalam benak saya bahwa saya harus berjuang melawan diktator militer yang jahat," tambahnya.


China Tak Akan Biarkan Taiwan Merdeka dengan Bantuan Pasukan Asing

Jumlah warga sipil yang kini bergabung dengan kelompok-kelompok bersenjata di Myanmar semakin meningkat dari hari ke hari. Meski selama bertahun-tahun sudah mengembangkan sumber daya dan kapasitas peralatan, namun hal tersebut tentunya tidak sebanding dengan kemampuan tempur dan persenjataan milik militer Myanmar atau yang juga dikenal dengan Tatmadaw.

Meski demikian, hal tersebut tidak lantas membuat warga sipil Myanmar gentar.

"Kami sudah menggelar protes berskala nasional dan melakukan gerakan pembangkangan terhadap militer berharap demokrasi sipil dapat dikembalikan, tapi metode-metode tersebut tidak akan berhasil," kata seorang mantan dosen yang kini memimpin pasukan sipil bersenjata di negara bagian Chin dan kawasan Sagaing.

"Kami sudah melakukan semua yang bisa kami lakukan, dan mengangkat senjata merupakan satu-satunya pilihan yang tersisa bagi kami untuk memenangkannya," tambahnya.

Salai Vakok, seorang warga berusia 23 tahun yang juga tinggal di negara bagian Chin, mengatakan bahwa dirinya sudah mulai mengumpulkan senapan berburu di kota kelahirannya, Mindat, sesaat setelah tentara-tentara Tatmadaw mulai menembaki para pendemo pada pertengahan Februari lalu.

"Kami sebelumnya sudah berharap jika orang-orang dari luar negeri akan ikut berjuang bersama kami, tapi hal itu tidak pernah terjadi," ujarnya.

"Belum pernah sekalipun terlintas di pikiran jika saya akan memegang senjata, tapi saya segera merubah pemikiran saya usai melihat pembunuhan warga sipil tak berdosa, dan tidak bersenjata di seluruh negeri. Saya tidak bisa tinggal diam. Untuk membalas dendam para pahlawan yang telah gugur dan untuk menunjukkan rasa solidaritas, saya memutuskan untuk mengangkat senjata," tegasnya.

 

 

Afrika Selatan Perketat Aturan Pembatasan Usai Kasus Infeksi Covid-19 Melonjak

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia