logo


Duterte Ogah Kerja Sama dengan ICC terkait Investigasi Pembantaian Bandar Narkoba di Filipina

ICC menyebut jika pembantaian para bandar narkoba yang dilakukan oleh pemerintahan Rodrigo Duterte tersebut merupakan pelanggaran HAM.

15 Juni 2021 13:27 WIB

Presiden Filipina Rodrigo Duterte
Presiden Filipina Rodrigo Duterte nypost

MANILA, JITUNEWS.COM - Presiden Filipina Rodrigo Duterte menegaskan bahwa dirinya tidak akan bekerja sama dengan Pengadilan Pidana Internasional (ICC) yang rencananya akan melakukan proses investigasi terkait pembunuhan para bandar narkoba di Filipina.

"Kami tidak akan berkoordinasi karena kami tidak lagi menjadi anggota (ICC)," kata juru bicara Kepresidenan Filipina, Harry Roque, dikutip Reuters.

"Kami tidak perlu orang asing untuk menginvestigasi pembunuhan dalam perang melawan narkoba karena sistem resmi (Undang-undang) masih berjalan dengan baik di Filipina," tambahnya.


Ditutup Sejak Maret, Pintu Perbatasan AS-Kanada Segera Dibuka?

Sejumlah aktivis HAM telah menyambut baik langkah yang akan diambil oleh ICC tersebut. Mereka menilai investigasi tersebut akan membawa keadilan bagi ribuan orang yang terbunuh dalam perang berdarah Duterte terhadap peredaran obat terlarang.

Seorang jaksa penuntut ICC pada Senin (14/6) dikabarkan tengah berupaya mendapatkan ijin untuk menggelar investigasi skala besar terkait pembantaian orang-orang yang diduga sebagai pengedar narkoba di Filipina. Ia mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Rodrigo Duterte merupakan bentuk pelanggaran HAM.

"Tangan panjang hukum akan segera menangkap Duterte dan antek-anteknya," kata mantan senator oposisi Filipina, Antonio Trillanes dalam sebuah pernyataan tertulis.

Sejak Duterte terpilih menjadi presiden pada 2016 hingga akhir April tahun ini, pihak kepolisian Filipina telah membunuh lebih dari 6.100 tersangka pengedar narkoba di negara tersebut.

Sejumlah aktivis HAM mengatakan bahwa para orang yang diduga mengedarkan narkoba tersebut langsung dibunuh tanpa melalui proses peradilan terlebih dahulu, Sementara pemerintah Filipina menegaskan bahwa para pengedar narkoba tewas usai mereka menyerang petugas dan menolak untuk ditangkap.

 

AS Kirim Tiga Kapal Perang Mereka untuk Gelar Operasi Maritim Rutin di LCS

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia