logo


China Tingkatkan Anggaran Belanja Militer, Begini Reaksi Menhan AS

Menteri Pertahanan AS menilai China bertujuan untuk menguasai kawasan Indo-Pasifik

11 Juni 2021 20:34 WIB

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin reuters

WASHINGTON, JITUNEWS.COM - Menteri Pertahanan AS Austin Lloyd pada Kamis (10/6) mengatakan bahwa langkah China meningkatkan anggaran belanja militernya adalah untuk mengendalikan kawasan Indo-Pasifik, dimana tujuan utamanya adalah menjadi negara dengan kemampuan militer terkuat di dunia.

Pernyataan tersebut ia sampaikan di hadapan Komisi Senat AS terkait penetapan rencana anggaran belanja sektor pertahanan AS untuk tahun 2022. Austin juga menyebut China saat ini terus berupaya untuk menyaingi Amerika Serikat, tidak hanya dalam bidang militer, namun di semua aspek, tak terkecuali di bidang perekonomian.

Pada Maret lalu, parlemen China telah menyetujui rencana anggaran belanja militer China senilai USD 209,16 miliar atau 6,8 persen untuk tahun 2022 mendatang atau lebih tinggi dibanding dengan tahun 2021. Meski selama satu dekade terakhir terus berupaya meningkatkan anggaran belanja untuk sektor pertahanannya, namun anggaran yang mereka habiskan hanya sepertiga dari Amerika Serikat.


Taliban Minta Turki Tarik Pasukan Militernya dari Afghanistan Sesuai Perjanjian 2020

"Hubungan kita dengan China adalah sebuah kompetisi," kata Austin Lloyd.

Ia menambahkan bahwa ancaman dari China jauh lebih besar daripada ancaman yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.

"Ancaman militer paling signifikan yang kita hadapi, dan anda sudah mendengar saya mengatakan hal ini lebih dari seratus kali, adalah China," tambahnya.

Kepala Pentagon tersebut memastikan kepada Parlemen AS bahwa meski anggaran belanja sektor militer China terus meningkat setiap tahunnya, namun AS masih mampu mempertahankan diri sebagai negara dengan kemampuan militer terkuat di dunia.

"Kita adalah pasukan militer paling mematikan yang pernah ada di planet (bumi)," tegas Menhan AS.

Tampar Emmanuel Macron, Pria Perancis Ini Harus Mendekam di Penjara selama 4 Bulan

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia
 
×
×