logo


Intelijen Inggris Yakin Jika Penyebaran Covid-19 Akibat dari Kebocoran Laboratorium

The Sunday Times melaporkan bahwa agen intelijen Inggris tengah menyelidiki kemungkinan adanya kebocoran laboratorium yang mengakibatkan penyebaran virus Covid-19

30 Mei 2021 12:55 WIB

Ilustrasi Laboratorium Virus
Ilustrasi Laboratorium Virus istimewa

LONDON, JITUNEWS.COM - Agen intelijen Inggris sedang menyelidiki kemungkinan bahwa menyebarnya virus SARS-CoV-2 ke seluruh dunia berawal dari adanya kebocoran di sebuah laboratorium virus yang ada di dalam Institut Virologi Wuhan di Cina.

Menurut surat kabar The Sunday Times, agen Inggris sekarang meyakini jika kebocoran virus corona sangat "memungkinkan".

Sementara itu, media Inggris lainnya, The Daily Mail, melaporkan bahwa Profesor Inggris Angus Dalgleish dan ilmuwan Norwegia Birger Sorensen telah melakukan penelitian, dimana keduanya mengklaim telah membuktikan bahwa virus SARS-CoV-2 berasal dari laboratorium.


Vietnam Identifikasi Sebuah Varian Covid-19 Baru yang Lebih Mengerikan

Penelitian tersebut menuding para ilmuwan China telah mengembangkan SARS-CoV-2 di laboratorium Wuhan, sebagai upaya "penghancuran yang disengaja, penyembunyian atau kontaminasi data" untuk membuat virus tampak alami, ditularkan dari kelelawar.

Beijing berulang kali membantah tuduhan tersebut.

Pada bulan Januari lalu, tim ahli internasional atas nama WHO melakukan perjalanan ke Wuhan untuk memeriksa laboratorium, rumah sakit, dan pasar hewan untuk mencari petunjuk tentang asal-usul SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19. Mereka kemudian menyusun laporan yang menyatakan bahwa kebocoran virus corona baru dari laboratorium di Wuhan sangat kecil kemungkinannya. Laporan yang dirilis pada Maret lalu, mengatakan bahwa virus baru kemungkinan besar ditularkan ke manusia dari kelelawar melalui inang perantara.

Setelah publikasi tersebut, kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa China telah menyembunyikan data dari para ahli internasional selama kunjungan mereka ke kota Wuhan di China, tempat SARS-CoV-2 diyakini mulai beredar pada November 2019.

Amerika Serikat dan 13 negara lainnya telah bersama-sama menyatakan keprihatinan mereka atas laporan WHO yang mengatakan bahwa laporan itu terlambat datang dan gagal memasukkan data dan sampel yang lengkap sehingga saat ini mereka tengah berupaya menggelar investigasi versi mereka sendiri.

Negara Barat Jatuhkan Sanksi terhadap Belarus, Oposisi: Saya Sangat Tersentuh

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia