logo


Soal Wacana Kenaikan PPN, Anis Byarwati: Bukan Kebijakan Tepat di Tengah Krisis Ekonomi

Terus terang saya bingung melihat kebijakan pemerintah ini, ketika ekonomi sedang berjuang tertatih tatih untuk bangkit dan pulih, kok malah dihantam dengan rencana menaikkan PPN

12 Mei 2021 12:41 WIB

Anis Byarwati
Anis Byarwati pks.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Rencana kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) yang terungkap dari paparan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendapat sorotan dari Politisi PKS, Anis Byarwati.

“Terus terang saya bingung melihat kebijakan pemerintah ini, ketika ekonomi sedang berjuang tertatih tatih untuk bangkit dan pulih, kok malah dihantam dengan rencana menaikkan PPN,” ujar Anis di Jakarta, Selasa (11/5/2021).

Anggota Komisi XI DPR RI ini menilai menaikkan tarif PPN dalam kondisi daya beli masyarakat yang tertekan akibat pandemi dan krisis ekonomi bukanlah merupakan kebijakan yang tepat.


Heran KPK Buru-buru Nonaktifkan Novel Baswedan dkk, PKS: Absurd dan Tidak Peka!

Dalam hal ini, Anis mempertanyakan bukti keberpihakan pemerintah terhadap rakyat. Sebab kenaikan PPN dampak kontraksinya bisa ke segala lapisan masyarakat, khususnya masyarakat menengah bawah.

Dimana dampak yang utama adalah menghantam daya beli masyarakat dan membahayakan industri retail.

“Pemerintah jangan mencari jalan pintas utk memenuhi target pajak. Jangan sampai Pemerintah kembali “mencederai rasa keadilan,” katanya.

Anis juga mengingatkan bahwa Pemerintah baru saja menurunkan tarif PPh Badan, obral insentif pajak dan bahkan pembebasan PPnBM yang hanya menyasar kalangan tertentu yang notabene golongan menengah ke atas, tetapi disaat yang sama Pemerintah berencana menaikkan tarif PPN yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari karena menyangkut konsumsi barang dan jasa masyarakat secara keseluruhan.

“Jangan sampai kenaikan PPN ini menjadi beban baru bagi konsumen dan dunia usaha secara luas. Saran saya, daripada menaikan tarif PPN yang sudah pasti akan semakin menyengsarakan masyarakat bawah, sebaiknya pemerintah menarik pajak dari harta atau warisan orang-orang kaya (wealth tax) di Indonesia,” usulnya.

Selanjutnya Anis berpendapat agar Pemerintah menarik pajak atas kekayaan jenis tertentu atau warisan dengan nilai minimal tertentu. Jangan menambah beban masyarakat yang sedang susah dengan kenaikan PPN. Karena menurut perempuan yang sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua BAKN (Badan Akuntabilitas Keuangan Negara) DPR RI ini, PPN konteksnya pajak yang paling dekat dengan masyarakat. Beli minum, beli baju, belanja di supermarket atau restoran, semua ada PPNnya dan itu semua dibebankan oleh penjual kepada konsumen akhir,” ujar Anis.

Menurut Anis, bahkan lebih bagus lagi kalau pemerintah menurunkan PPN dr 10 % ke.5 %. “Ini bisa membantu menaikkan daya beli,” kata Anis.

Anis memberikan saran tambahan untuk Pemerintah. Diai mengatakan bahwa, pajak harus efektif. caranya harus fair, orang yang harus membayar pajak, membayar pajak dengan tingkat yang fair juga.

Berdasarkan data dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) nilai aset orang terkaya Indonesia, yang 1% dari populasi, menguasai 50% aset nasional.

“Pajak warisan sepertinya cukup prospektif unuk menambah setoran pajak,” pungkasnya.

75 Pegawai Dinonaktifkan, Mardani: Doakan KPK Baik-baik Saja

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar
 
×
×