logo


Soal Bipang Ambawang, Pengamat: Jokowi Perlu Mengevaluasi Tim Komunikasinya

Sebelumnya, Jokowi juga melakukan blunder dalam kasus Perpres Miras dan pernyataannya mengenai benci produk asing.

11 Mei 2021 14:49 WIB

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi Instagram

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali melakukan blunder. Kali ini Jokowi melalui video mempromosikan makanan Indonesia, yang salah satunya bipang ambawang (panggang babi) dari Kalimantan. Sebelumnya, Jokowi juga melakukan blunder dalam kasus Perpres Miras dan pernyataannya mengenai benci produk asing.

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga mengatakan hal semacam itu seharusnya tidak boleh terjadi bila ring satu presiden.

Menurutnya tim Komunikasi presiden seharusnya sangat selektif dan korektif terhadap semua hal yang keluar dari istana.


Jokowi Disebut Ngabalin 'Bapak Semua Agama', Wawat Kurniawan: Agama yang Mana?

“Mereka harusnya mempertimbangkan secara komprehensif dan integratif dari setiap kebijakan yang diambil Presiden Jokowi,” ujar Jamiluddin di Jakarta, Selasa (11/5/2021).

“Hal yang sama juga berlaku pada pidato dan pernyataan presiden yang ditujukan untuk konsumsi publik. Semuanya harus diseleksi sehingga yang keluar dari presiden sangat terukur dan dampaknya sudah dapat diperhitungkan sebelumnya,” imbuhnya.

Dalam kasus promosi bipang ambawang, Jamiluddin menyebut bahwa pernyataan itu sangat tidak sesuai disampaikan di bulan ramadhan.

Menurutnya komunikasi seperti itu sangat mengabaikan empati terhadap umat Islam yang aedang menjalankan ibadah puasa.

“Karena itu, wajar kalau akhirnya munculnya reaksi keras dari masyarakat. Mereka menilai pesan promosi seperti itu tidak toleran terhadap umat Islam,” kata dia.

Jamiluddin melanjutkan meski ada upaya pelurusan atas apa yang disampaikan Jokowi, namun tetap saja tidak menolong. Justru hal itu dinilai masyarakat hanya sebuah pembenaran.

“Kalau pembenaran semacam itu terus dilakukan, dikhawatirkan akan memunculkan masyarakat lebih luas. Disini perlu kebesaran jiwa Presiden Jokowi mengakui kesalahan dengan meminta maaf kepada umat Islam,” tuturnya.

Jadi, kata Jamiluddin, kalau presiden melakukan blunder dalam kebijakan dan pernyataan, maka dapat diduga orang-orang di ring satu dan tim komunikasi presiden bekerja tidak maksimal atau tidak menutup kemungkinan mereka memiliki agenda sendiri diluar agenda presiden.

Dia menuturkan dalam komunikasi politik, blunder seperti itu tentu dapat menimbulkan ketidakpastian di masyarakat. Dalam setiap ketidakpastian akan memunculkan kebingungan di tengah masyarakat.

Dalam situasi demikian akan dapat menurunkan kepercayaan masyarakat kepada presiden. Padahal kepercayaan masyarakat sangat dibutuhkan sebagai prasyarat dipatuhinya suatu kebijakan dan diikutinya pernyataan pimpinan.

“Kalau masyarakat sudah tidak percaya, dikhawatirkan kepatuhan masyarakat pada presiden akan turun drastis. Hal ini tentu sangat berbahaya manakala rakyat sudah tidak lagi mengikuti kebijakan dan pernyataan presidennya,” kata Jamiluddin.

“Untuk itu, presiden harus mengevaluasi orang-orang di ring satu dan tim komunikasinya, agar blunder seperti itu tidak terulang kembali,” pungkasnya.

Jamin Ketahanan Pangan di NTT, Kementerian PUPR Bangun Jaringan Irigasi

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar
 
×
×