logo


Ratusan LSM Internasional Desak PBB Jatuhkan Sanksi Embargo Senjata terhadap Militer Myanmar

Amnesty International dan ratusan LSM lain sudah meminta Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi tegas terhadap junta militer Myanmar yang terus melakukan tindak kekerasan terhadap rakyat sipil

6 Mei 2021 12:08 WIB

Tim relawan paramedis yang membantu menangani korban aksi protes di Myanmar
Tim relawan paramedis yang membantu menangani korban aksi protes di Myanmar AFP

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Amnesty Internasional beserta lebih dari 200 organisasi kemasyarakatan non pemerintah telah meminta Dewan Keamanan PBB mengeluarkan sanksi tegas seperti embargo senjata kepada pihak junta militer Myanmar yang terus melakukan tindak kekerasan terhadap warga sipil pasca mengambil alih pemerintahan melalui aksi kudeta pada 1 Februari lalu.

"Inilah saatnya bagi Dewan Keamanan PBB untuk menggunakan kekuatannya untuk menjatuhkan sebuah embargo senjata global yang komprehensif dengan tujuan menghentikan aksi pembunuhan yang dilakukan oleh pihak militer," kata Lawrence Moss, salah satu tokoh senior Amnesty International pada Rabu (5/5), dikutip Al Jazeera.

Ia menambahkan bahwa kecaman dari komunitas internasional terbukti tidak memilik dampak apapun.


Arab Saudi Kemungkinan Bakal Kembali Batasi Jumlah Jemaah Haji Luar Negeri Tahun Ini

"Tidak ada satu pun pemerintahan yang seharusnya menjual, walau hanya satu butir peluru kepada junta (militer Myanmar) dengan keadaan seperti ini...Memberlakukan embargo senjata global kepada Myanmar adalah langkah minimal yang perlu diambil oleh Dewan Keamanan untuk merespon tindak kekerasan yang dilakukan oleh militer (Myanmar) yang semakin meningkat," tambahnya.

Menurut kelompok aktivis pembela HAM AAPP, hingga saat ini lebih dari 760 warga sipil Myanmar tewas akibat tindak kekerasan yang dilakukan oleh junta militer saat menghadapi gelombang protes warga yang menolak aksi kudeta. Sementara itu, lebih dari 4.500 warga sipil lain juga masih ditahan oleh pihak keamanan Myanmar.

Seluruh Pasukan Militer Asing dan Tentara Bayaran Diperkirakan Akan Segera Keluar dari Libya

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia
 
×
×