logo


Kritik Terbosan Nadiem Soal Program Digitalisasi, Pengamat Sebut Bertolak Belakang dengan SKB 4 Menteri

Pengamat menilai bahwa bagi-bagi laptop ke sekolah hanyalah bagian kecil dari program digitalisasi pendidikan

4 Mei 2021 11:39 WIB

Mendikbud Nadiem Makarim
Mendikbud Nadiem Makarim istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengaku telah melakukan sejumlah terobosan dalam bidang pendidikan setelah hampir dua tahun menjadi menteri. Ia menyebut salah satunya telah melakukan program digitalisasi dengan membagikan laptop ke sekolah-sekolah. Hal tersebut ia sampaikan saat memperingati Hari Pendidikan Nasional bersama Presiden Joko Widodo pada Minggu (2/5) lalu.

Sementara itu, Praktisi pendidikan Indra Chrismidiaji menilai terobosan Nadiem terkait program digitalisasi bertolak belakang dengan sikap pemerintah yang bersikeras ingin melakukan pembelajaran tatap muka di masa pandemi Covid-19.

"Buktinya udah tiga kali ngeluarin SKB (Surat Keputusan Bersama) 4 menteri isinya supaya (belajar) tatap muka kan. Dan di setiap penjabaran dikatakan pembelajaran tanpa tatap muka itu menghasilkan learning loss. Itu, berdampak buruk," kata Indra seperti dilansir CNNIndonesia.com, Senin (3/5/2021).


Pengamat Sebut Ada Upaya PDIP Pertahankan Citra Nadiem Sebagai Mendikbud

"Berarti sama aja dia mengatakan digitalisasi itu enggak bagus. Kan sama aja gitu kan?" sambungnya.

Indra menilai bahwa bagi-bagi laptop ke sekolah hanyalah bagian kecil dari program digitalisasi pendidikan. Ia menyebut ada tiiga prinsip yang harus diterapkan dalam program digitalisasi yakni tentang infrastruktur, infostruktur, dan infokultur.

Ia menjelaskan bahwa infrastruktur harus dipenuhi. Tidak hanya mencakup terkait laptop namun juga listrik dan konektivitas. Sedangkan infostruktur yaitu upaya pemerinta membuat informasi menjadi terstuktur seperti membuat apikasi berbasis lembaga. Sementara terkait infokultur yaitu upaya agar informasi dapat diakses kapanpun, dimanapun, dan melalui perangkat apapun.

"Kulturnya ini mengenal yang namanya any time, any where, any device. Sedangkan kalau tradisional enggak bisa any time, any where, any device," kata Indra.

"Kan belum ada tentang learning manajemen sistem mana? Kemudian bagaimana informasi itu terstruktur itu bagaimana? Ya kan? Kemudian bagaimana infokultur bagaimana," pungkasnya.

Sore Ini Reshuffle Kabinet, Bagaimana Posisi Nadiem Makarim?

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati